Empat Bulan, 24 PMI Asal NTT Meninggal
Ilustrasi
Carlens
12 Apr 2024 19:26 WITA

Empat Bulan, 24 PMI Asal NTT Meninggal

KUPANG, Nttzoom-Balai Pelayanan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mencatat sebanyak 23 Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal NTT secara non prosedural dan satu PMI prosedural yang dipulangkan dalam keadaan meninggal dunia.

Dari 24 PMI yang dipulangkan dalam keadaan tak bernyawa itu, terhitung sejak Januari sampai dengan tanggal 5 April 2024. Adapun hasil tersebut berkaitan dengan catatan BP3MI NTT selama tiga bulan terakhir pada 2024 dengan kedatangan PMI NTT ke Indonesia khususnya ke Provinsi NTT dalam keadaan tak bernyawa.

Sesuai dengan rekapan penanganan Pekerja Imigran Indonesia (PMI) dari BP3MI Provinsi NTT dari 22 kabupaten/kota dengan jumlah 24 orang PMI yang meninggal dunia. Adapun rinciannya, laki-laki sebanyak 18 orang dan perempuan enam orang.

Dengan demikian, PMI yang meninggal dan dipulangkan untuk dimakamkan ke daerah asal berjumlah 23 orang dan PMI yang dimakamkan di luar negeri satu orang.

Kepala BP3MI Provinsi NTT, Suratmi Hamida menjelaskan, 24 PMI yang dipulangkan dalam keadaan meninggal itu berasal dari beberapa kabupaten di Provinsi NTT. Di antaranya, dari Kabupaten Kupang tiga orang, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) tiga orang, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) satu orang, Belu dua orang, Malaka lima orang, Kabupaten Flores Timur dua orang, Kabupaten Sikka empat orang, Kabupaten Nagekeo dua orang, Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) satu orang, dan kabupaten Sumba satu orang.

“Jadi ada 24 PMI dalam keadaan meninggal dunia, 23 di antaranya nonprosedural dan satu secara prosedural itu dari Kabupaten Kupang,” ungkap Suratmi Hamida kepada nttzoom.com, Jumat (12/4).

Dijelaskan, PMI ilegal atau nonprosedural yang dipulangkan dalam keadaan tak bernyawa itu lebih banyak berasal dari Kabupaten Malaka, disusul kabupaten Sikka, dan Kabupaten TTS.

“Untuk PMI yang dimakamkan di daerah asal ada 23 itu. Sementara satunya, dimakamkan di Luar Negeri,” ungkapnya.

Namun begitu, pihak BP3MI Provinsi NTT tetap memfasilitasi pemulangan jenazah PMI baik secara nonprosedural dan prosedural dengan berkoordinasi dengan keluarga dari PMI. “Kita tetap memfasilitasi mereka (jenazah) agar bisa dimakamkan di daerah asal mereka,” ungkapnya.

Pada dasarnya, kata Suratmi, BP3MI berharap PMI yang bekerja keluar dari NTT harus mendaftar secara resmi agar mendapatkan pelindungan selama bekerja di luar NTT sesuai UU No.18 Tahun 2017 tentang Pelindungan Pekerja Migran Indonesia.

“Kita berharap agar yang hendak bekerja ke luar negeri, harus sesuai dengan prosedur yang ada. Hal ini sesuai dengan UU tentang perlindungan PMI,” imbuhnya.(jem/cd2/nz)

Dapatkan sekarang

NTT Zoom, Ringan dan cepat
0 Disukai