700 Bidan Ikut Luncurkan Program Edukasi dan Intervensi Stunting
Peluncuran program pengentasan stunting di NTT
Carlens
09 Mar 2024 08:31 WITA

700 Bidan Ikut Luncurkan Program Edukasi dan Intervensi Stunting

KUPANG, Nttzoom-Stunting atau tengkes masih menjadi perhatian serius Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Oleh sebab itu, Penjabat Gubernur NTT, Ayodhia G.L. Kalake, SH., MDC secara resmi meluncurkan Program Edukasi Bidan dan Intervensi Stunting ‘tengkes’ sebagai upaya percepatan penurunan tengkes di Kota Kupang, NTT yang berlangsung di Aula El Tari, Kamis 7 Maret 2024. 

Peluncuran program tersebut dihadiri sedikitnya 700 bidan dari seluruh NTT. Sebanyak 300 bidan mengikuti acara secara langsung dan 400 lainnya mengikuti secara online atau Daring. 

Peresmian itu ditandai dengan pemukulan gong oleh Ayodhia didampingi Plt. Deputi Bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi (KBKR) Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) RI, Marianus Mau Kuru, SE., MPH, Ketua Umum Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Pusat, Dr. Ade Jubaedah, SSiT, MM, MK dan Corporate Affairs Director Dexa Group, Tarcisius Tanto Randy. 

Pj. Gubernur NTT, Ayodhia pada sambutannya menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada BKKBN, Dexa Group dan IBI yang telah berkolaborasi dengan Pemerintah Provinsi NTT untuk bersama-sama melakukan kerja kreatif dan kolaboratif sebagai upaya Percepatan Penurunan Stunting di Provinsi NTT. 

Dia menyebut penanganan stunting menjadi prioritas utama pemerintah Provinsi NTT. Menurutnya, stunting di Provinsi NTT merupakan persoalan serius yang harus ditangani untuk mencapai visi Indonesia Emas tahun 2045 mendatang.  

"Kita membutuhkan generasi penerus yang sehat, cerdas, berkarakter unggul dan mandiri untuk mewujudkan Indonesia yang maju dan sejahtera," jelas Ayodhia.  

Oleh karena itu Ayodhia mengatakan, Pemerintah Provinsi NTT terus melakukan berbagai upaya untuk menurunkan angka stunting di NTT melalui langkah-langkah intervensi spesifik dan intervensi sensitif dengan melibatkan berbagai perangkat daerah dan stakeholder terkait, melalui wadah Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) yang dibentuk melalui Surat Keputusan (SK) Gubernur serta terus mendorong setiap kabupaten/kota agar memiliki data by name by adress yang mutakhir tentang stunting sehingga memudahkan penanganan/penggempuran secara lintas sektoral (pentahelix).  

"Pemerintah Provinsi juga terus melakukan konsolidasi data terkait balita stunting di NTT. Selain menggunakan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) dengan rilis terakhir untuk NTT sejumlah 35,3 persen di tahun 2022, turut dikembangkan metode pencatatan Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (ePPGBM)," ungkapnya. 

Berdasarkan data e-PPGBM, pravelensi stunting di NTT mengalami penurunan dimana pada 2021 sebesar 20,9 persen, dan di 2022 sebesar 17,7 persen. Sementara pada 2023 berdasarkan hasil timbang dan pengukuran bulan Agustus  terhadap 419.798 balita di seluruh NTT,  terdapat sebesar 15,2 persen atau 63.804 balita stunting.   

Lebih lanjut Ayodhia mengatakan, dalam Strategi Nasional Percepatan Pencegahan Stunting (SNPPS), sasaran utama upaya percepatan pencegahan stunting adalah menyasar kelompok prioritas yang mencakup ibu hamil, ibu menyusui dan anak berusia 0-23 bulan yang merupakan periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Sehingga menurutnya, peran tenaga kesehatan (Nakes) khususnya bidan sangat strategis dalam upaya pencegahan stunting di 1.000 HPK anak.  

"Para bidan merupakan sosok yang berada di garda terdepan dalam memberikan pendampingan, pengetahuan dan dukungan kepada para calon ibu dan para ibu sejak kehamilan hingga bayi berusia lima tahun. Karena itu, peningkatan, kompetensi dan kapasitas para bidan merupakan hal yang sangat penting percepatan penurunan angka stunting," bebernya.  

Selain itu, Pj. Ayodhia turut menyambut positif Komitmen dan Nota Kesepahaman antara BKKBN dan Dexa Group untuk menurunkan stunting di NTT melalui Program Edukasi Bidan dan Intevensi Stunting.  

"Kepedulian dan keterlibatan berbagai pihak memperlihatkan pentingnya komitmen dari semua pemangku kepentingan terhadap upaya penanggulangan stunting untuk mewujudkan generasi emas Indonesia di tahun 2045," ujarnya. 

Ia berharap program ini dapat mendorong semakin banyak dunia usaha dan swasta lainnya dapat berperan serta dalam upaya penanganan stunting di NTT untuk menciptakan generasi yang unggul dan kompetitif yang nantinya dapat membawa NTT semakin maju dan sejahtera. "Saya juga berharap agar kiranya upaya edukasi bidan dan intervensi stunting ini dapat dilakukan di seluruh kabupaten/kota di Provinsi NTT," cetusnya.  

Di akhir sambutan, Ayodhia juga mengajak Dexa Group untuk turut terlibat dalam bidang peningkatan sumber daya manusia (SDM) di NTT seperti pemberian beasiswa bagi para mahasiswi kebidanan di NTT, pemberantasan penyakit-penyakit endemik di NTT seperti Demam Berdarah Dengue (DBD) dan Malaria, pemberian obat cacing bagi anak-anak serta berinvestasi di bidang penelitian dan pengembangan tanaman-tanaman tradisional NTT yang dapat dijadikan sebagai bahan dasar untuk obat-obatan.  

Selanjutnya Corporate Affairs Director Dexa Group, Tarcisius Tanto Randy menjelaskan, selama kurun waktu 10 tahun terakhir, prevelensi stunting di Indonesia turun 15,6% dari 37,2% menjadi 21,6% di tahun 2012. Dan Presiden Joko Widodo telah menargetkan prevelensi stunting 14 persen di tahun 2024. Target penurunan angka stunting ini dapat dicapai melalui semangat kolaborasi dan kerja sama dari seluruh pihak.  

"Dexa Group sebagai salah satu pihak swasta yang yang bergerak di bidang kesehatan, yakni menyediakan produk farmasi yang bermutu, berkhasiat dan aman turut berkontribusi dalam program percepatan penurunan stunting ini. Oleh karena itu, Dexa Group mengajak semua pihak agar terus berkolaborasi mendorong peningkatan kesehatan yang baik khususnya bagi masyarakat NTT," jelas Tarcisius.  

Turut hadir, Unsur Forkopimda Provinsi NTT,  Jajaran Pimpinan Perangkat Daerah Lingkup Pemerintah Provinsi NTT dan Jajaran Pimpinan Pengurus Cabang Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Kabupaten/Kota se-Provinsi Nusa Tenggara Timur yang hadir secara online dan offline.  

Secara terpisah, Ketua IBI NTT, Damita Palalangan, A.Md, Keb., SKM., M.Hum kepada nttzoom.com, Jumat (8/3) menyebut kegiatan tersebut sebagai salah satu cara untuk mengedukasi peran para Nakes khususnya Bidan di NTT tentang stunting dan upaya kesehatan pada anak-anak untuk menurunkan prevalensi stunting di Provinsi NTT.  

"Kegiatan ini bagian refresing bagi teman-teman bidan tentang stunting dan peran bidan dalam upaya kesehatan anak untuk turunkan prevelensi stunting, agar anak-anak tumbuh menjadi generasi yang sehat dan cerdas," ujarnya.

Damita menyebut, sebanyak 300 Bidan yang mengikuti kegiatan secara offline atau secara langsung di Aula El Tari pada 7 Maret 2024, di antaranya dari Puskesmas, Rumah Sakit (RS) Pemerintah dan RS Swasta.

"Bidan yang ikut offline 300 orang terdiri dari, Puskesmsas, RS Pemerintah dan RS Swasta, tempat praktek mandiri bidan yang online 400 orang bidan dari 22 cabang," jelasnya.(*/jem/cd3/nz)

Dapatkan sekarang

NTT Zoom, Ringan dan cepat
0 Disukai