Sekolah Berlantai Tanah dan Berdinding Bambu, Tak Patahkan Semangat Belajar Anak-anak di Sumba Timur
‎Anak-anak SD Paralel tengah belajar di ruang kelas sebuah sekolah dengan kondisi jauh dari kata layak yang berdiri di atas tanah desa di Dusun Kambata Kundurawa, Desa Praibakul, Kecamatan Katala Hamu Lingu, Kabupaten Sumba Timur.
Redaksi
09 Nov 2025 16:55 WITA

Sekolah Berlantai Tanah dan Berdinding Bambu, Tak Patahkan Semangat Belajar Anak-anak di Sumba Timur

Waingapu, NTTzoom.com— Di tengah keterbatasan fasilitas dan akses jalan yang rusak parah, semangat belajar anak-anak di Dusun Kambata Kundurawa, Desa Praibakul, Kecamatan Katala Hamu Lingu, Kabupaten Sumba Timur, tetap menyala. Mereka menimba ilmu di SD Paralel Lailara, sebuah sekolah sederhana yang berdiri di atas tanah desa dengan kondisi bangunan jauh dari kata layak.

‎Gedung sekolah yang berukuran 12 x 6 meter itu dibangun sekitar tahun 2010. Dindingnya dari bambu cincang (gedek), beratap seng, dan berlantai tanah. Di dalamnya hanya ada dua ruangan — satu dipakai untuk kegiatan belajar mengajar, sementara satu ruang lainnya digunakan untuk kegiatan pendukung.

‎Menurut Rambu Emelia Namupraingu, penanggung jawab SD Inpres Paralel Lailara, kondisi sarana dan prasarana sekolah sangat memprihatinkan.

‎“Kursi, meja, dan papan tulis kami pinjam dari SDM Tawakihu. Sebagian kami perbaiki supaya bisa dipakai anak-anak belajar. Sampai sekarang belum ada fasilitas yang memadai,” ujar Rambu Emelia, Jumat (7/11/2025). 

‎Hal senada juga disampaikan Depi Peka Amahu, salah satu guru pengajar di sekolah tersebut. Ia menyebutkan, jumlah siswa saat ini 18 orang, dengan 16 siswa telah terdaftar di Dapodik dan 2 siswa masih berstatus murid pendengar. Seluruhnya masih duduk di kelas 1.

‎“Kami baru mulai kegiatan belajar tahun ini, setelah ada pengesahan dari Dinas Pendidikan Sumba Timur. Anak-anak sangat antusias, meski belajar di ruangan berdinding bambu dan berlantai tanah,” kata Depi.

‎Sarana pendukung di sekolah ini nyaris tidak ada. Meja, kursi, dan papan tulis semuanya bersifat darurat. WC belum tersedia, dan jaringan listrik maupun internet juga belum menjangkau wilayah itu. Papan tulis kapur masih menjadi andalan dalam kegiatan belajar.

‎Selain itu, guru yang menetap di lokasi belum ada, karena rumah dinas (mess guru) belum dibangun. Para guru harus bolak-balik sejauh 16 kilometer dari sekolah induk di SD Inpres Lailara, dengan kondisi jalan ekstrem dan belum beraspal.

‎“Kalau musim hujan, jalan becek dan licin sekali. Kadang motor kami terjebak lumpur. Tapi demi anak-anak, kami tetap datang setiap hari agar belajar tidak terhenti,” tutur Rambu Emelia.

‎Gedung sekolah yang sudah berdiri sejak 2010 itu baru disurvei oleh Dinas Pendidikan pada tahun 2023, dan resmi memulai kegiatan belajar mengajar tahun 2025 setelah mendapat pengesahan dari Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sumba Timur.

‎Kini, anak-anak di Kambata Kundurawa belajar dengan semangat luar biasa di tengah segala keterbatasan. Mereka berharap suatu hari bisa belajar di sekolah yang layak — dengan lantai yang tidak lagi tanah, dinding yang kuat, fasilitas lengkap, dan guru yang bisa menetap bersama mereka.

‎“Kami hanya berharap pemerintah memberi perhatian. Kasihan anak-anak di sini. Mereka ingin sekolah, ingin belajar, ingin maju, tapi harus berjuang lebih keras dibanding anak-anak di tempat lain,” tutup Rambu Emelia penuh harap.

‎Kisah perjuangan anak-anak Kambata Kundurawa menjadi cermin nyata masih banyaknya wilayah di pelosok Sumba Timur yang membutuhkan perhatian serius pemerintah dalam pemerataan akses pendidikan. (es) 

Dapatkan sekarang

NTT Zoom, Ringan dan cepat
0 Disukai