KUPANG, NTTZOOM-Indonesia mematok target penggunaan kendaraan listrik dengan tenaga baterai dalam beberapa tahun ke depan. Pemerintah kini juga tengah mendorong agar industri dalam negeri mampu membuat baterai kendaraan listrik di tanah air.
Anggota DPRD Provinsi NTT, Ir. Alexander Foenay ketika diwawancarai nttzoom.com memberikan tanggapan terkait tantangan dan peluang mobil listrik di NTT. Ia membeberkan beberapa hal tentang tantangan mobil listrik di NTT. Pertama, kendaraan listrik yang tersedia di Indonesia saat ini masih relatif mahal. Kedua, penetrasi pasar kendaraan listrik di Indonesia masih rendah bahkan belum mencapai satu persen. Ketiga, infrastruktur berupa charging station yang masih terbatas.
"Ini kan mata rantai tenaga kerja industri otomotif itu hilang. Artinya mobil listrik ini, kita tahu bersama bahwa kendaraan saat ini lebih menyentuh dengan bahan bakar dan akan diganti dengan baterai," ujar Alex Kamis (29/6).
Dijelaskan, Indonesia hingga saat ini dikatakan sebagai negara industri terbesar di dunia dari bahan baku, yakni baterai.
Lebih lanjut, kata Alex, Indonesia lebih menguasai tentang industri bahan baku baterai dibandingkan dengan negara-negara Eropa. Menurutnya, program alih teknologi dalam mendirikan perusahaan baterai terbesar saat ini membutuhkan SDM unggul dan teknologi yang rumit. Sehingga diperlukan peran serta ilmuwan ataupun teknologi dari negara maju. Namun dalam perjalanannya, pemerintah harus memiliki guideline baku bahwa proses transfer teknologi tersebut harus bisa berjalan. Dengan begitu pekerjaan-pekerjaan rumit dan penguasaan teknologi bisa dilakukan pekerja dalam negeri.
"Itu negara-negara terbesar dari Eropa sangat takut dengan Indonesia karena Indonesia menguasai itu sehingga kalau kita tidak ekspor mereka sudah selesai itu," katanya.
Lebih lanjut, politisi dari Partai Perindo ini menyebutkan bahwa ada juga dampak positif bagi kita adalah dari hulu sampai hilir itu dipastikan bahwa saat ini masih menggunakan bahan bakar (Fosil).
"Saat ini kita kan masih pakai bahan bakar seperti bensin, pertalite, pertamax dan ke depan pasti kita pakai baterai karena ketika baterai habis, kan masih bisa dicas ulang," sebutnya.
Politisi dari Partai Perindo ini juga mengusulkan agar tidak serta merta untuk langsung diterapkan. Harus membutuhkan waktu yang cukup panjang sehinggah tenaga kerja yang ada dapat dialihkan ke sektor-sektor yang ada tersebut agar tidak menjadi pengangguran ke depan.
Dijelaskan, pemerintah terus bergerak untuk mempercepat pengembangan dan menudukung ekosistem mobil listrik di Indonesia. Mulai dari dukungan fiskal, relaksasi pajak, hingga regulasi pun telah disiapkan untuk percepatan pengembangan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB) di tanah air. Namun demikian, hal itu ternyata tak mudah dilakukan. Pemerintah disebut harus menyusun rencana strategis dan terobosan solusi atas persoalan yang muncul. Terlebih saat ini holding industri baterai baru saja terbentuk sehingga memungkinkan pemerintah untuk mengurai persoalan-persoalan yang muncul sejak awal.
"Akan ada sistem baterai listrik. Sekarang kan sudah ada mobil listrik tapi itu baru sebagian dan yang lain masih menggunakan bahan bakar, tapi ke depan harus pakai baterai," ujarnya.
Lebih lanjut, Alex yang siap bertarung di Pilwalkot 2024 mendatang ini juga menegaskan, tenaga kerja yang tidak terserap di sektor perindustrian bahan bakar seperti fosil dapat dialihkan ke perindustrian baterai.
"Tenaga-tenaga kerja yang tidak ada di industri bahan bakar seperti fosil perlu dialihkan agar tidak terjadi pengangguran," ujarnya.
Kata Alex, melihat penggunaan kendaraan listrik yang terus meningkat dari tahun ke tahun menjadikan kondisi ini sebagai peluang sekaligus tantangan. Apalagi dunia tengah beramai-ramai menuju penggunaan energi bersih dengan terus berupaya menurunkan ketergantungan pada bahan bakar minyak.
"Ini saya kira yang lebih penting, yaitu menjadikan peluang untuk meningkatkan perekonomian dengan mengambil nilai tambah dari produksi kendaraan listrik di Indonesia," tambahnya.
Alex juga memberikan salah satu dampak yang saat ini terjadi di Jakarta, yakni usaha Holywings yang dimana terdapat 12 outlet Holywings ditutup dan sebanyak 3.000 pekerja kehilangan pekerjaan. Hal ini, kata Alex, menjadi sebuah tantangan besar yang perlu diminimalisir secara baik.
"Saya memberikan satu contoh dampak saat ini, yaitu seperti di Jakarta, Holywings itu ada banyak pekerja yang kehilangan pekerjaan dan ini misalnya dalam satu rumah terdapat tiga orang. Kita hitung sudah. Ini kan terjadi dampak sosial yang timbul," ujarnya.(jem/cd3/nz)
Dapatkan sekarang