Angka Kematian Ibu dan Anak Tertinggi di Kupang
Yoel Laitabun
Carlens
23 Feb 2024 09:04 WITA

Angka Kematian Ibu dan Anak Tertinggi di Kupang

KUPANG, Nttzoom-Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kupang mencatat jumlah angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) pada 2023 meningkat dibanding tahun 2022.

Kadis Kesehatan Kabupaten Kupang, Yoel Midel Laitabun kepada nttzoom.com, Rabu (21/2) jelaskan, angka kematian ibu di 2023 sebanyak 14 kasus dan angka kematian bayi sebanyak 114 kasus serta angka kematian bayi di bawah lima tahun (Balita) terdapat 13 kasus. Sementara pada tahun 2022, angka kematian ibu hanya terdapat 9 kasus. Dan, angka kematian bayi sebanyak 104 kasus serta angka kematian pada Balita berjumlah 11 kasus.

Adapun kasus kematian ibu saat melahirkan disebabkan sejumlah faktor, seperti pendarahan pasca melahirkan, tekanan darah tinggi, infeksi hingga penyakit penyerta lainnya.

Sementara untuk kasus kematian bayi dipengaruhi sejumlah faktor seperti asfiksia, berat badan bayi lahir rendah serta ada kelainan bayi bawaan yang membuat bayi meninggal dunia saat baru dilahirkan.

"Kalau kematian pada ibu-ibu itu akibat dari pendarahan, hipertensi pada saat kehamilan, pre eklamsia, kelainan jantung, infeksi. Sedangkan untuk anak itu kejang, dehidrasi berat, kelainan bawaan, pnemoni, dan cacat bawaan," ungkapnya.

Dalam upaya menekan kasus kematian ibu dan bayi di Kabupaten Kupang, Kadinkes Yoel membangun penguatan Puskesmas dan jaringannya, penguatan manajemen program dan sistem rujukan, meningkatkan peran serta masyarakat, kerja sama dan kemitraan serta kegiatan akselerasi yang terkoordinir.

"Dengan adanya lembaga swadaya masyarakat (LSM) seperti Yayasan IPAS yang membantu pemerintah kabupaten pada bidang kesehatan ini, saya kira baik untuk menekan angka kematian ibu dan anak. Ini upaya kita bersama," bebernya.

Yoel juga menyebut perlunya peningkatan pemahaman masyarakat tentang preeklamsia. Sebab, preeklamsia berat menjadi penyebab terbanyak terjadinya kasus kematian pada ibu. Menurutnya, meskipun penyebab preeklamsia atau yang disebut dengan keracunan kehamilan ini belum diketahui pasti, namun keberadaannya bisa dideteksi dan dicegah sejak dini dengan mengenali ciri-cirinya seperti tekanan darah tinggi, bengkak di kaki, sakit kepala, penglihatan kabur, mual dan muntah, serta sulit bernapas.

"Sehingga kalau sudah tahu ciri-cirinya, pemahaman masyarakat tentang preeklamsia bisa ditingkatkan,” timpalnya.

Deteksi faktor risiko preeklamsia sangat diperlukan pada ibu hamil atau pada orang yang merencanakan kehamilan. Sehingga peran penyuluh kesehatan bisa dimaksimalkan dengan memberikan layanan konseling dan pemahaman kepada ibu hamil, pasangan dan keluarganya agar menyadari bahaya preeklamsia setelah terlebih dahulu dikenalkan gejalanya.

Selanjutnya, ujar Yoel, yang tak kalah pentingnya adalah menjalin keterbukaan hubungan komunikasi dengan dokter kandungan tentang masalah kesehatan yang dialami.

"Sehingga jika kemudian mendapati ada ibu hamil yang sudah mengalami preeklamsia, maka bisa segera mendapat penanganan oleh pihak kesehatan,” bebernya.(jem/cd3/nz)

Dapatkan sekarang

NTT Zoom, Ringan dan cepat
0 Disukai
Lihat Juga