Bento, Bayangan Kelam di Balik Lapak Semangka Jalan Timor Raya
Tersangka Bento setelah ditangkap dan lapak semangka di jala Timor Raya Kelapa Lima, tempat dia menghabisi nyawa ibu Selvina Pah, pada Jumat (3/10/2025) dini hari.
Redaksi
17 Oct 2025 09:20 WITA

Bento, Bayangan Kelam di Balik Lapak Semangka Jalan Timor Raya

‎Kupang, NTTzoom.com—Wajahnya tenang saat digiring polisi, tapi di balik itu, tersimpan jejak panjang kejahatan. Bento, pria yang baru saja keluar dari penjara, kembali mencoreng kebebasan dengan darah seorang ibu, pada Jumat (3/10/2025) dini hari pukul 04.00 WITA. 

‎Ia dikenal di lingkungannya sebagai sosok yang kerap berpindah-pindah tempat, pelaku lama dalam kasus pencurian, dan nyaris selalu membawa pisau di pinggangnya. Baru 9 Desember 2024 dia bebas bersyarat dari lembaga pemasyarakatan, kini ia kembali menapaki jalan yang sama — jalan kejahatan.

‎“Dia residivis. Pernah dipenjara selama 8 tahun karena kasus pencurian dengan kekerasan (curas) dan pemerkosaan. Baru bebas bersyarat, dan belum lama di luar, dia kembali melakukan tindakan kriminal,” kata Kombes Pol Djoko Lestari, Kapolresta Kupang Kota,  Kamis (16/10/2025). 

‎Kehidupan keras di jalanan membuat Bento terbiasa hidup di antara risiko dan pelarian. Saat polisi mulai memburunya atas pembunuhan di Jalan Timor Raya, ia sempat berpindah dari satu tempat ke tempat lain — dari Kupang ke Belu.

‎Ia tidur di emperan, makan seadanya, lalu menyamar bekerja di tempat besi tua di Pasar Baru, Atambua.

‎Namun pelariannya tak bertahan lama. Polisi yang sudah melacak jejaknya selama hampir dua minggu akhirnya menangkapnya. Bento, sang residivis curas dan pemerkosaan itu sempat melawan dan mencoba kabur, tapi peluru petugas lebih cepat.

‎“Saat akan diamankan, dia berusaha melarikan diri. Anggota terpaksa memberikan tindakan tegas terukur,” Tegas Djoko. 

‎Kini, di balik jeruji, ia kembali menatap dinding dingin penjara — tempat yang pernah ia tinggalkan, dan kini menantinya dengan hukuman lebih berat.

‎“Dia ditangkap dalam keadaan melawan. Barang bukti utama, termasuk pisau dan tas berisi HP, sudah diamankan,” kata Djoko Lestari menambahkan.

‎Kisah Bento menutup lingkaran hidup yang tragis — dari pencurian, penjara, kebebasan, hingga pembunuhan. Dan bagi warga Kupang, nama Bento kini hanya tersisa sebagai bayangan kelam di balik lapak semangka yang kini sepi. (es) 

Dapatkan sekarang

NTT Zoom, Ringan dan cepat
0 Disukai