KUPANG, NTTZOOM-Pada bulan Februari 2023, gabungan tiga Kota Inflasi di Nusa Tenggara Timur (NTT) mengalami Deflasi MtM sebesar 0,66 persen dengan IHK sebesar 113,19.
Ketiga Kota tersebut, yakni Kota Kupang mengalami Deflasi MtM sebesar 0,77 persen, Kota Maumere mengalami Deflasi MtM sebesar 0,51 persen dan Kota Waingapu mengalami Inflasi MtM sebesar 0,27 persen.
Untuk inflasi YoY Februari 2023, gabungan tiga kota inflasi adalah sebesar 5,41 persen. Kota Kupang sebesar 5,57 persen, Kota Maumere sebesar 5,86 persen dan Kota Waingapu sebesar 3,57 persen.
"Untuk gabungan tiga kota ini secara inflasi, yakni 5,41 persen. Jadi kalau bandingkan dengan angka nasional maka angka ini masih rendah secara nasional," demikian diungkapkan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTT, Matamira B. Kale di aula lantai dua BPS Provinsi NTT, Rabu (1/3).
Dijelaskan, pada Februari 2023, dari 90 kota sampel IHK Nasional, 63 kota mengalami inflasi MtM dan 27 kota mengalami deflasi MtM. Kota yang mengalami inflasi MtM tertinggi adalah Kota Ternate sebesar 1,85 persen sedangkan inflasi MtM terendah terjadi di Kota Lubuklinggau sebesar 0,04 persen.
Kota yang mengalami deflasi MtM tertinggi adalah Kota Gunungsitoli sebesar 0,98 persen sedangkan deflasi MtM terendah terjadi di Kota Sumenep sebesar 0,02 persen. Untuk inflasi YoY tertinggi terjadi di Kota Kotabaru sebesar 7,88 persen dan inflasi YoY terendah terjadi di Kota Waingapu sebesar 3,57 persen.
Dari ketiga kota yang mengalami inflasi tersebut, terdapat dua kota yang mengalami deflasi dan satu kota mengalami inflasi. Untuk Kota Kupang mengalami deflasi 0,77 persen dan untuk Kota Maumere mengalami deflasi 0,51 persen. Sementara untuk Kota Waingapu mengalami inflasi sebesar 0,27 persen.
"Jadi kita hitung dari Januari 2023 hingga Februari 2023, untuk gabungan di kota itu, inflasi kalendernya sebesar 0,35 persen. Untuk Kota Kupang 0,22 persen dan Maumere 0,41 persen serta Waingapu 1,43 persen," sebutnya.
Sementara untuk Februari 2023 Nilai Tukar Petani (NTP) sebesar 95,70 naik 0,15 persen jika dibandingkan dengan Januari 2023.
Nilai Tukar Petani (NTP) Februari 2023 didasarkan pada perhitungan NTP dengan tahun dasar 2018 (2018=100). Penghitungan NTP ini mencakup 5 subsektor, yaitu subsektor padi & palawija, hortikultura, tanaman perkebunan rakyat, peternakan dan perikanan.
Pada Februari 2023, NTP Nusa Tenggara Timur sebesar 95,70 dengan NTP masing-masing subsektor tercatat sebesar 95,54 untuk subsektor tanaman padi-palawija (NTP-P), 101,63 untuk sub sektor hortikultura (NTP-H); 90,89 untuk subsektor tanaman perkebunan rakyat (NTP-TPR); 109,01 untuk subsektor peternakan (NTP-Pt) dan 96,01 untuk subsektor perikanan (NTP-Pi).Terjadi peningkatan 0,15 persen pada Februari 2023 jika dibandingkan dengan NTP Januari 2022.
Matamira menyebut, peningkatan indeks harga ini disebabkan oleh perkembangan indeks harga terima yang lebih cepat dibandingkan harga bayar. Hal ini terjadi pada subsektor tanaman pangan dan tanaman perkebunan rakyat.
Masih menurut Matamira, Neraca Perdagangan Nusa Tenggara Timur bulan Januari 2023 mengalami surplus US$ 1,59 juta. Dijelaskan, nilai impor Provinsi Nusa Tenggara Timur Januari 2023 mencapai US$ 2,48 juta dengan volume sebesar 5.138,1 ton. Nilai impor Januari 2023 mengalami penurunan sebesar 87,44 persen dari impor bulan Desember 2022. Dibanding Januari 2022, nilai impor meningkat sangat besar, yaitu 3.323,6 persen.
Menurutnya, impor Januari 2023 seluruhnya berasal dari sektor non migas senilai US$ 2,48 juta. Dengan rincian, pada Januari 2023, penurunan terbesar impor non migas NTT November 2022 terhadap Oktober 2022 terjadi pada kelompok komoditas Mesin-mesin/ Pesawat Mekanik (84) yang turun sebesar 99,93 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Impor nonmigas bulan Januari 2023, berasal dari Vietnam melalui pelabuhan Tenau dan Timor Leste melalui pintu darat di Atambua. Neraca Perdagangan Nusa Tenggara Timur Januari 2023 mengalami surplus US$ 1,59 juta, terutama dari sektor nonmigas yang surplus sebesar US$ 1,54 juta dan sektor migas surplus sebesar US$ 0,05 juta.
Lebih lanjut, Matamira menuturkan sebanyak 187.498 orang bepergian melalui 15 bandara di Nusa Tenggara Timur pada Januari 2023.
Dikatakan, Tingkat Penghunian Kamar (TPK) Hotel Bintang di Provinsi NTT pada Januari 2023 tercatat 28,06 persen, turun 6,00 persen dibandingkan TPK Januari 2022. Jika dibanding dengan bulan sebelumnya, TPK Januari 2023 mengalami penurunan sebesar 33,24 persen.Total rata-rata lama menginap tamu di hotel klasifikasi bintang pada Januari 2023 mencapai 1,66 hari.
Rata-rata, lama menginap tamu mancanegara mencapai 2,24 hari sedangkan rata-rata lama menginap tamu nusantara mencapai 1,58 hari. Selama Januari 2023 sebanyak 2.497 wisman yang berkunjung ke NTT, angka ini turun 41,93 persen dibandingkan dengan jumlah wisman pada bulan sebelumnya. Jumlah penumpang angkutan udara pada Januari 2023 sebanyak 187.498 orang atau turun 19,38 persen dibanding Desember 2022.
Lebih lanjut, Dia menjelaskan bahwa pada tahun 2022, luas panen padi mencapai sekitar 183,09 ribu hektare dengan produksi sebesar 756,05 ribu ton GKG dengan rincian, yakni Luas panen padi pada 2022 mencapai sekitar 183,09 ribu hektare, mengalami kenaikan sebanyak 8,19 ribu hektare atau 4,68 persen dibandingkan luas panen padi di 2021 yang sebesar 174,90 ribu hektare.
Produksi padi pada 2022 yaitu sebesar 756,05 ribu ton GKG, mengalami kenaikan sebanyak 24,17 ribu ton atau 3,30 persen dibandingkan produksi padi di tahun 2021 yang sebesar 731,88 ribu ton GKG. Produksi beras pada 2022 untuk konsumsi pangan penduduk mencapai 442,84 ribu ton, mengalami kenaikan sebanyak 14,16 ribu ton atau 3,30 persen dibandingkan produksi beras di 2021 yang sebesar 428,68 ribu ton.(jem/cd3/nz)
Dapatkan sekarang