Dari Ilalang Jadi Miliaran: Cerita Warga Ulubelu Atas Hadirnya PLTP Mataloko
Kehadiran proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Mataloko di Kabupaten Ngada membawa perubahan besar bagi warga Desa Ulubelu, Kecamatan Golewa.
Redaksi
26 Oct 2025 19:41 WITA

Dari Ilalang Jadi Miliaran: Cerita Warga Ulubelu Atas Hadirnya PLTP Mataloko

Ngada, NTTzoom.com — Kehadiran proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Mataloko di Kabupaten Ngada membawa perubahan besar bagi warga Desa Ulubelu, Kecamatan Golewa. Warga mengaku proyek ini bukan hanya membuka lapangan kerja, tapi juga mengubah taraf hidup masyarakat yang sebelumnya hidup dalam keterbatasan.

‎Emerensiana Wawo, warga Desa Ulubelu, menceritakan bagaimana kondisi ekonomi masyarakat sebelum proyek dimulai.

‎“Sebelumnya ada sepuluh atau belasan warga di sini yang lahannya belum dibebaskan. Hidup mereka sangat susah. Anak-anak sekolah hanya sampai kelas 3 atau 4 SD lalu putus karena tidak ada biaya,” ungkapnya.

‎Menurutnya, meski wilayah Ulubelu subur, hasil pertanian tidak laku di pasaran. Banyak warga yang hanya menanam untuk dikonsumsi sendiri.

‎“Sayur dijual ke tetangga dengan harga murah, kadang dibagi gratis. Mau jual ke luar susah karena pasarannya tidak jelas,” katanya.

‎Namun, situasi itu berubah sejak sebagian lahan digunakan untuk proyek PLTP Mataloko oleh PLN. Emerensiana menyebut, lahan yang diambil pemerintah justru sebagian besar bukan lahan subur, melainkan daerah tebing dan jurang yang sebelumnya tak produktif.

‎“Kebun yang dulunya cuma batu dan ilalang, ketika diambil PLN nilainya miliaran. Itu luar biasa. Warga yang dulu susah, sekarang bisa bangun rumah, beli kendaraan, biayai anak sekolah,” tutur Emerensiana.

‎Selain itu, proyek PLTP juga membuka lapangan pekerjaan baru bagi warga sekitar. Banyak anak muda dan kepala keluarga yang ikut bekerja di proyek tersebut.

‎“Sebelumnya kerja tidak jelas, petani juga tidak tentu hasilnya. Tapi sejak datang CBN, TBN, dan PLN, masyarakat bisa kerja dengan upah harian Rp100 ribu per hari. Dulu kami hanya dapat Rp50 ribu tapi tidak selalu setiap hari. "ujarnya.

‎Ia menambahkan, penghasilan ganda itu membuat ekonomi rumah tangga meningkat pesat.

‎“Kalau bapak datang lihat sekarang, semua rumah di Desa Ulubelu sudah rumah batu. Dulu WC saja tidak terpakai, sekarang semua lengkap. Itu perubahan besar,” kata Emerensiana bangga.

‎Lebih jauh, ia menegaskan bahwa masyarakat Desa Ulubelu mendukung penuh proyek PLTP Mataloko.

‎“Kalau ada yang bilang masyarakat menolak, itu bohong. Kami 100 persen menerima. Saya sendiri yang menyampaikan langsung di DPR RI bahwa Ulubelu siap dari awal sejak 1983,” tegasnya.

‎Emerensiana berharap proyek PLTP Mataloko segera diselesaikan agar manfaatnya bisa dirasakan secara nyata oleh seluruh warga.

‎“Harapan kami, cita-cita presiden dan pemerintah pusat untuk membangun daerah ini bisa cepat terwujud. Jangan sampai kami yang tua-tua belum sempat melihat hasilnya,” tutupnya. (es) 

Dapatkan sekarang

NTT Zoom, Ringan dan cepat
0 Disukai