Dekranasda NTT Launching Mie Kelor dan Singkong
Ketua Dekranasda NTT dan wakilnya saat launching mie kelor dan singkong
Carlens
30 Dec 2022 20:53 WITA

Dekranasda NTT Launching Mie Kelor dan Singkong

* Bisa Atasi Stunting dan Gizi Buruk

KUPANG, NTTZOOM-Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Julie Sutrisno Laiskodat bersama Wakil Ketua Dekranasda Provinsi NTT, Ny. Maria Fransisca Djogo launching produk berbahan dasar kelor atau marungga yang berlangsung di Dekranasda NTT Jl. Moch Hatta No.42, Oetete, Kecamatan Oebobo, Kota Kupang, Jumat (30/12).

Produk yang dilaunching, yakni Mie Goreng Spesial, Mie Kuah Kari, Mie Original Ayam Bawang dan Mie Original Kuah Soto. Keempat produk tersebut memiliki slogan, "B'Pung Mie Asli Orang NTT Pung".

Keempat produk tersebut diproduksi dari dua jenis bahan dasar, yakni singkong dan daun kelor.

Ketua Dekranasda NTT, Julie Sutrisno Laiskodat jelaskan, produk tersebut memiliki cita rasa yang berbeda dengan produk dari luar NTT. Menurut istri Gubernur NTT itu, "B'Pung Mie Asli Orang NTT Pung" menjamin kesehatan bagi masyarakat Provinsi NTT dan juga untuk menumbuhkan perekonomian masyarakat NTT di bidang pertanian.

"Jadi kita punya produk ini, saya pastikan 100 persen menjamin kesehatan masyarakat dan juga produk ini sebagai bentuk untuk membantu masyarakat untuk menunjang ekoniminya," ucap Julie.

Dia jelaskan, mie instan yang diluncurkan Dekranasda NTT berbahan dasar kelor dan singkong itu, akan mengatasi stunting dan gizi buruk di NTT.

Kata Bunda Julie, sebagai Tim Penggerak PKK Provinsi NTT, salah satu tugas pokoknya, yaitu memberikan asupan gizi yang baik bagi anak-anak di Provinsi NTT.

Dikatakan, pada 2022, pihaknya mengadakan program yang berkolaborasi dengan Dekranasda NTT, yaitu kelor.

"Kami PKK sendiri, salah satu tugas pokok, yaitu SDM untuk asupan gizi yang baik dan benar," ujarnya.

Dikatakan, program khusus untuk kelor yang dilakukan dari TP PKK Provinsi NTT bekerja sama dengan Deranasda NTT selama empat bulan sejak Juli-Oktober 2022 mencapai Rp 10 miliar dan disetujui DPR dan pihak keuangan.

"Jadi program dari kami itu hanya empat bulan dan ada nilainya hampir Rp 10 miliar ini. Memang ini programnya khusus untuk kelor," kata Julie lagi.

Selain mudah tumbuh dan bisa ditanam di halaman rumah,  Bunda Julie katakan, daun dengan nama latin Moringa Oleifera itu sangat bermanfaat. Menurutnya, khasiat daun kelor atau yang biasa dijuluki Superfood ini tidak perlu diragukan lagi. Bahkan WHO pun mengeluarkan kajian tentang Marungga sebagai salah satu sumber alternatif untuk mengatasi malnutrisi.

Politikus Partai NasDem itu menilai adanya perbedaan yang signifikan antara prevalensi stunting proyeksi nasional dengan kondisi riil yang ditemukan di lapangan. Menurutnya, kasus stunting masih sering ditemukan di berbagai daerah. Karena itu, dibutuhkan penanganan multisektor dalam mengatasi stunting.

"Tahun depan kami tidak ada anggaran lagi, tapi sebagai Anggota DPR-RI saya tidak tutup di situ saja. Saya ke Jakarta dan saya terus perjuangkan untuk terus manfaatkan daun kelor ini. Karena menurut ahli gizi, kelor kita di NTT itu kita menang," ungkapnya.

Dijelaskan Bunda Julie, pihaknya terus gencar mengembangkan produk-produk unggulan dari Provinsi NTT. Menurut dia, di tahun 2023 mendatang, Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo telah mengumumkan bahwa dunia akan mengalami krisis global atau ekonomi sehingga dengan kehadiran produk-produk lokal dari NTT yang dilaunching seperti Mie Instan berbahan dasar kelor dan singkong atau ubi kayu ini dapat membawa manfaat bagi masyarakat NTT di bidang pertanian.

"Presiden RI sudah umumkan bahwa di tahun 2023 dunia gelap dalam artian kita mengalami krisis global (ekonomi), sehingga dengan kehadiran produk-produk kita seperti mie dan lain sebagainya dapat membantu ekonomi masyarakat," bebernya.

Dia jelaskan, perawatan singkong sangat mudah, kerena perawaratan pada tanaman singkong hanya membutuhkan waktu beberapa bulan setelah itu dipanen dan dijual.

"Singkong itu perawatannya sangat gampang. Tanam setelah itu dua atau tiga bulan sudah bisa dipanen," jelasnya.

Bunda julie berharap dengan adanya Rapat Koordinasi (Rakor) bersama Kapela Dinas PMD tersebut, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang ada di desa-desa dapat melakukan hal-hal baru dengan melihat potensi-potensi yang ada di desa sehingga dapat menunjang kemampuan otak generasi-generasi penerus bangsa, khususnya di Provinsi NTT.

"Kita kemarin (red) sudah rapat dengan Dinas PMD, maka saya berharap agar BUMDes-BUMDes dapat melakukan, karena kita lihat semuanya punya anggaran dan kita sudah lakukan rapat sampai di tingkat nasional bahkan akan gencar lakukan di setiap Puskesmas," timpalnya.

Hingga saat ini, sebanyak 341 Puskesmas yang tersebar di wilayah NTT akan mendapatkan bantuan kelor.

"Karena kita punya data-data maka dapur kelor akan lakukan itu. Jadi yang kita mau, Dinas PMD dapat menggerakkan desa-desa untuk menjadi ekosistem tersebut," pintanya.

Sementara Ny.Maria Fransisca Djogo selaku pembina UMKM menjelaskan, bahan lokal singkong dan kelor di NTT sangat melimpah, bahkan kelor adalah salah satu tanaman terbaik di dunia dan sangat bagus untuk PMT sehingga dapat mencukupi kalori dan protein.

"Aman untuk orang dengan maag, diebetes dan stunting tapi baik untuk ibu hamil menyusui, kurang gizi dan stunting," jelasnya.

Wakil Ketua Dekranasda NTT itu berharap dengan program ini, dapat memberdayakan masyarakat NTT dan juga memberdayakan bahan pangan lokal yang ada di setiap daerah.

"Tujuannya ada pemberdyaaan di masyarakat sehingga ekonomi petani NTT meningkat," tambahnya.

"Sekarang ini, lahannya sudah 10 Hektare dan itu dikerjakan secara bertahap. Jadi panen setelah itu tanam, kemudian panen lagi lahan yang lain itu. Jadi hasil itu, perbulan mencapai Rp 10 juta," sebut dia.

Dijelaskan, sesuai arahan Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat dan Wakil Gubernur NTT, Josef A. Nae Soi, pihaknya terus gencarkan produk-produk lokal yang berbahan dasar kelor.

Menurut istri Wakil Gubernur NTT itu, kelor bukan hanya untuk membuat produk-produk seperti teh kelor, tepung dan kue. Namun, kelor juga dapat menghasilkan berbagai produk lokal seperti SUN untuk bayi.

"Kita mulai formulasi, karena ini semuanya lokal jadi ada pemberdayaan dari petani di situ. Contohnya, satu petani saja, memiliki 1 Hektare tanah saja, dia sudah dapat Rp 40-50 juta perbulan dari singkongnya saja," katanya.

Dijelaskan, produksi mie singkong kelor sudah dimulai sejak beberapa bulan lalu dan diproduksi oleh CV. Rahardjo Indokarya Indonesia dan distribusi oleh PT. Sahabat Mitra Strategis Jakarta Selatan dan sudah terdaftar pada Dinkes Pirt No. 2053314010116-27.

Untuk diketahui, pabrik singkong akan dibangun di Provinsi NTT untuk menunjang produk-produk dari hasil olahan bahan dasar singkong.(jem/cd3/nz)

Dapatkan sekarang

NTT Zoom, Ringan dan cepat
0 Disukai