Kupang, nttzoom.com -- Komandan Korem (Danrem) 161 Wira Sakti Kupang, menggelar uji jasmani terbuka, kepada tiga orang peserta seleksi, usai dituding sarat KKN dan tidak transparan dalam proses seleksi calon Tamtama (cata) Prajurit Karier (PK) TNI tahun 2025.
Ketiga peserta ini didampingi Ketua Lembaga Pengkaji Peneliti Demokrasi Masyarakat (LPPDM), yang juga orang tua dari salah seorang peserta seleksi.
Uji terbuka yang dimulai sejak pukul 05.30 Wita ini digelar di lapangan bola asrama TNI AD Kuanino Kupang, Kamis (03/07/2025).
Uji jasmani yang digelar terbuka yakni lari 12 menit, pull up, push up dan shetel run. Dari hasil uji terbuka ini, ketiga peserta tidak berhasil memenuhi syarat bahkan jauh dari nilai sempurna.
Untuk lari 12 menit, salah satu peserta dengan nomor dada satu (1), mampu melakukan enam putaran, sementara untuk pull up hanya mencapai 14 kali, dan untuk push up mampu sebanyak 32 kali.
Peserta dengan nomor dada dua (2), untuk lari 12 putaran hanya mampu melakukan tujuh putaran, dan untuk push up hanya mampu sebanyak 16 kali dan untuk pull up 12 kali.
Sementara untuk peserta nomor dada tiga (3), untuk lari 12 menit hanya mampu melakukan tiga putaran, push up sebanyak tujuh kali, sementara pull up, tak mampu melakukan sekali pun.
Melihat hasil yang diperoleh, Marsel Ahan, orang tua peserta dengan nomor dada 2, meminta maaf kepada Presiden dan Wakil Presiden, Panglima TNI, jajaran TNI AD, terkhusus Korem 161 Wira Sakti Kupang, karna telah mencoreng institusi dengan tuduhan tak benar dan menyesatkan publik, melalui media sosial.
"Selama ini saya hanya berasumsi bahwa panitia itu tidak transparan ternyata setelah saya melihat langsung tes jasmaninya, sangat transparan. Lebih khusus bapak danrem 161, saya mohon maaf sebesar-besarnya, dan juga masyarakat NTT karna selama ini saya memberikan pernyataan yang tidak menyenangkan jajaran TNI AD." Ungkap Marsel.
Sebelum melihat langsung uji jasmani ini, Marsel diketahui sempat menyurati Panglima, Wapres dan Presiden, untuk mengadukan tudingannya terkait proses seleksi calon prajurit TNI tahun 2025.
"Kemarin saya sudah cabut pengaduan saya sekaligus menyampaikan permohonan maaf. Kedepannya saya tidak akan mengulang lagi, karna saya sebagai LSM, melihat seleksi ini ternyata transparan. Saya berharap proses ini tetap melibatkan pengawasan independen untuk mencegah asumsi-asumsi liar di masyarakat," tambahnya.
Menanggapi permintaan maaf dari pihak yang selama ini menuding jajaran Korem 161, Danrem 161 Wira Sakti, Brigjen Joao Xavier Barreto Nunes, mengatakan, dirinya menggelar uji jasmani terbuka ini agar pihak yang menuding serta masyarakat yang sudah termakan isu negatif, bisa melihat dan menilai proses seleksi, yang sebenarnya dilakukan secara profesional dan transparan oleh panita.
"Selama ini dia menyuarakan (menuding), koar-koar minta saya dan panitia dicopot oleh Panglima TNI, makanya saya ajak lalu saya uji, dari kesehatan, ketiga pemuda itu tidak lulus. Tapi saya mau menunjukkan kepada LSM ini yang menuding negatif, sama masyarakat yang anaknya ga lulus, inilah transparansi. Dari jam enam pagi kita tes, kita arahkan sampai datanya masuk di komputer. Nanti perangkingan semua ada di situ. Jadi ini saya sampaikan agar supaya tahu, karna saya tidak pernah mau main-main dengan kegiatan demikian. Datanya jelas, selama dia jadi tentara, tetap tercatat." Tegas Danrem Joao.
Menurutnya, proses seleksi dimulai dari seleksi administrasi, kemudian ke uji kesehatan. Dari uji jasmani ini, nilainya nanti diakumulasi agar mendapatkan peserta dengan hasil yang maksimal sesuai perangkingan.
Sehingga, peserta seleksi yang terpilih adalah yang kesehatannya benar-benar baik dan teruji, agar mampu bersaing dengan peserta lain di ujian tahap berikutnya yang digelar di Bali.
"Jangan sampe nanti sudah sampai di Bali, dipulangkan, dibilang waduuh kami kurang duit. Mau bayar siapa. Tidak ada bayar-bayaran. Setelah dinyatakan lulus, maka semua tanggung jawab negara. Naik kapal dia gratis, sampai di Bali gratis, sampai ga lulus, dia kembali pun gratis. Jadi jangan bikin isu miring." Tandas Joao
Dia juga menegaskan, semua pemuda di NTT diberikan kesempatan yang sama dan terbuka lebar untuk mengikuti seleksi. Meski demikian, harus dipastikan telah mempersiapkan diri dengan baik.
Selain itu, dia juga menjamin tidak ada pungutan biaya sepeser pun untuk mengikuti seleksi TNI AD. (es)
Dapatkan sekarang