KUPANG, NTTZOOM-Kampus Intitut Teknologi Albert Foenay (ITAF) kini mempersiapkan diri untuk mendapatkan akreditasi untuk program studi (Prodi) terakreditasi unggul maupun Prodi prospektif.
Untuk memantapkan Prodi terakreditasi di Kampus ITAF, Drs. Albert E. Foenay selaku pendiri ITAF kepada nttzoom.com di Sekretariat ITAF yang beralamat di Jl. RSS Oesapa Selatan No. 1 Kota Kupang (Belakang POM Liliba) menjelaskan, saat ini ITAF dalam tahap persiapan menuju akreditasi unggul demi menjawab kebutuhan sumber daya manusia dalam dunia pendidikan di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
Dijelaskan, izin penyelenggaraan perguruan tinggi telah diterbitkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No.639/M/2020 Tanggal 9 Juli 2020 sehingga ITAF resmi berdiri sebagai perguruan tinggi di Indonesia.
Terkait sarana dan prasarana, kata Albert, ITAF juga menjalin kerja sama dengan kampus lain dan instansi teknis terkait di NTT dan luar NTT untuk pengembangan ilmu, dan juga mendukung pembelajaran yang semakin bermutu demi menyiapkan lulusan sarjana yang siap bersaing di dunia kerja.
Ia jelaskan, ITAF memiliki kampus mandiri di Jl. Antonov No. 1 Penfui Kota Kupang (Gedung 3 lantai). Kampus ITAF ditunjang dengan ruang kuliah yang representatif, ruang Lab Komputer, bengkel/workshop, Wifi gratis bagi warga kampus, peralatan pendukung untuk praktikum.
Dikatakan Albert, Kampus ITAF didukung dengan tenaga dosen tetap dan dosen luar biasa yang berkompeten di bidangnya dengan kualifikasi pendidikan S3 (doktor) dan minimal S2 (Magister) yang merupakan tamatan perguruan tinggi ternama di Indonesia.
"Dosen tetap di ITAF ini sudah sebanyak 15 orang dan disusul lagi 2 dosen. Jadi saat ini ITAF memiliki 17 dosen tetap," sebutnya.
Meskipun, kata Albert, Kampus ITAF adalah kampus teknologi, namun biaya perkuliahan di ITAF didesain dengan memperhatikan kondisi ekonomi masyarakat NTT.
Mantan ajudan Ben Mboi (Gubernur NTT periode 1978-1988) itu juga jelaskan, di Kampus ITAF disiapkan beasiswa bagi mahasiswa yang kurang mampu secara ekonomi dan juga bisa dibayar secara cicil sehingga bisa meringankan beban keluarga.
"Siapa saja bisa berkuliah di sini, dari latar belakang manapun, bahkan yang luar biasanya di Kampus ITAF juga tersedia beasiswa bagi mahasiswa yang ekonomi keluarga kurang mampu," ungkapnya.
Biaya kuliah tiap semester Rp 1,5 juta permahasiswa, dengan opsi beasiswa bagi keluarga mahasiswa yang kurang mampu secara ekonomi dan juga bisa dibayar secara mencicil sehingga bisa meringankan beban keluarga.
"Uang Kuliah per semester itu biasanya Rp 4 juta lebih. Tapi kalau di ITAF hanya Rp 1,5 juta, sekarang baru naik jadi Rp 2 juta. Tujuannya yaitu ada keringanan bagi kita masyarakat di NTT karena penghasilan kita ini pas-pasan saja," jelasnya lagi.
Dijelaskan, sebanyak 28 mahasiswa terbagai di tiga Prodi, yakni Lrodi Teknik Mesin (S1), Teknik Lingkungan (S1) dan Teknik Informatika (S1).
"Untuk tahun ini ada 28 mahasiswa dari tiga Prodi yang ada di ITAF ini," ucapnya.
Ia tegaskan, kehadiran Kampus ITAF di NTT adalah sebagai bentuk panggilan membantu anak-anak yang ingin melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi dengan faktor ekonomi yang kurang mampu.
"Jadi pada intinya, ITAF hadir di NTT untuk membantu masyarakat NTT khususnya Pulau Timor yang anaknya ingin melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi tapi ekinomi kurang, maka datanglah di ITAF," ucapnya.
Sementara Resta Gabriel Tedens ketika dimintai tanggapan terkait kehadiran Kampus ITAF di NTT, mengatakan sesuai visi-misi ITAF, yaitu menghasilan lulusan yang konsentrasinya disesuaikan dengan kondisi lingkungan yang ada di Provinsi NTT.
Dijelaskan, untuk Prodi Teknik Lingkungan dari Kampus ITAF, memberikan penekanan pada kajian mengenai sanitasi dan penyediaan air bersih yang merupakan masalah urgen di NTT.
"Teknik Lingkungan di ITAF ini adalah salah satu kajian karena kita tahu bahwa di NTT khususnya Kota Kupang ini sebagai perhatian utama adalah air bersih," katanya.
Selanjutnya Prodi Teknik Mesin, memberikan fokus pada kajian mengenai mesin untuk pengembangan energi terbarukan untuk kelistrikan dan mesin untuk mendukung produksi hasil pertanian di NTT. Sementara untuk Prodi Informatika adalah arah keilmuan yang akan dikembangkan Prodi ini terletak pada arah pengembangan informatika untuk pengembangan enterprise resource planning.
"Kalau untuk teknik mesin itu, penggunaannya di lahan pertanian sehingga lulusan dari teknik mesin ini dapat mengaplikasikan ilmunya di lahan-lahan pertanian yang ada di NTT. Sedangkan untuk Prodi Informatika yaitu mengikuti era digitalisasi," jelasnya.
Saat ini, lanjutnya, di Prodi Teknik Lingkungan terdapat tujuh dosen, Prodi Teknik Mesin lima dosen dan Prodi Teknik Informatika lima dosen.
"Kalau saat ini di tiga Prodi yang ada di ITAF terdapat 17 dosen tetap," sebutnya.
Resta jelaskan, ITAF telah memiliki dosennya sendiri dengan latar belakang pendidikan Strata-2 (S2) dengan tamatan dari berbagai perguruan ternama di Indonesia.
"ITAF memiliki dosen-dosen yang berbeda, yakni dari lulusan-lulusan universitas terbaik dan ternama di Indonesia, yaitu UGM, ITB, IPB dan Atmajaya," tutupnya.(jem/cd3/nz)
Dapatkan sekarang