Kupang, Nttzoom - Ketua Komisi IV DPRD Kota Kupang, Theodora Ewalde Taek menegaskan, kurangnya perhatian dan pengawasan dari pihak manajemen Rumah Umum Daerah (RSUD) SK Lerik Kota Kupang terkait rusaknya bak penutup Instalasi Pengolahan Limbah (IPAL) hingga memakan korban jiwa.
Ketua DPC PKB Kota Kupang ini bahkan menyebut, jika selama ini pihak manajemen RSUD SK Lerik Kota Kupang sengaja membiarkan bak penutup IPAL itu.
Dia menjelaskan, saluran pembuangan rumah sakit itu seharusnya diperhatikan oleh pihak manajemen RSUD S.K Lerik dengan memproteksi keamanannya agar tidak semua orang dapat melewati lokasi tersebut.
“Musibah ini terjadi karena adanya kelalaian juga karena kurang hati-hati dan kewaspadaan. Lalai yang saya maksudkan disini adalah, dari pihak RSUD SK. Lerik harusnya tempat yang urgen ini di proteksi keamanannya sehingga tidak semua orang bisa mengakses ke tempat itu," ujar Theodora Ewalde Taek kepada Nttzoom.com, Rabu 7 Agustus 2024.
Ia juga pertanyakan pihak RSUD SK Lerik terkait alasan mengapa membiarkan penutup bak IPAL itu salama bertahun-tahun rusak dan bahkan sudah keropos. Bagi dia, lokasi tersebut sangatlah urgen jika dibiarkan begitu saja.
“Saya sudah memantau di TKP, yah memang kalau keadaannya seperti ini namanya juga anak-anak pasti ingin tahu. Ingin ke lokasi tersebut. Apalagi, orang tuannya kerja di dekat area itu. Nah kenapa area itu dibiarkan hingga bertahun-tahun bahkan tutupannya sudah rusak dan keropos akhirnya disentuh sedikit, langsung jatuh kedalam,” tegasnya.
Ia menilai jika kesalahan ini dikarenakan karena adanya kelalaian dari pihak manajemen RSUD SK Lerik Kota Kupang. Ditegaskan, lokasi tersebut akan menjadi perhatian besar dari Pemerintah Kota Kupang.
“Padahal pelayanan dari RSUD SK Lerik ini, yang menjadi utama adalah pelayanan kepada masyarakatnya dan sarana-prasarana harus baik," ungkapnya.
“Mudah-mudahan ini menjadi perhatian kita semua, yang mungkin saja membawa anak-anak kita ke RS. Saya tidak menyalakan orang tua karena tentunya anak-anak pasti mencari tahu. Kan mereka belum mengerti," tambahnya.
Dia dengan tegas mengingatkan kepada pihak RSUD S.K Lerik agar harus melihat sarana dan prasarana di lingkungan RS sehingga jangan membiarkan semua fasilitas di RS itu rusak.
“Miris, masa bisa RSUD S.K Lerik biarkan itu penutup IPAL rusak bertahun-tahun, bahkan sudah keropos. Ini sebagai pengawasan Pemerintah Kota Kupang,” tegasnya.
Untuk diketahui, seorang anak laki-laki berinisial AN (7), murid kelas 1 salah satu Sekolah Dasar (SD) di Kota Kupang, meninggal dunia usai jatuh di IPAL Rumah Sakit RSUD SK. Lerik sekira pukul 15.00 Wita atau pukul 03.00 Wita sore.
Salah satu keluarga dari korban menyebut AN diduga bermain bersama adiknya di sekitar lokasi IPAL. Penutup IPAL itu tak diperhatikan oleh pihak RSUD SK Lerik.
Pasalnya, bak penampungan limah itu tak dipagari oleh pihak RSUD SK Lerik. Penutupnya hanya menggunakan seng bekas yang sudah keropos.
Bak tersebut kedalamannya berukuran 4 meter dengan panjang 5 meter dan lebar 2 meter. Didalam bak penampung limbah itu, terisi air yang diperkirakan 3 meter.
“Dia (AN) datang bersama orang tuanya yang kebetulan tugas di sini. Kami menduga dia bermain di atas lokasi IPAL, dan jatuh ke dalam karena penutup IPAL sudah keropos. Saat kakaknya jatuh, adiknya ini teriak lapor ke orang tua,” ungkap keluarga korban yang namanya enggan disebutkan, pada Selasa 6 Agustus 2024.
Ketika dikabarkan AN meninggal dunia, ibu kandung korban bersama keluarga menangis histeris di ruang pemulasaran jenazah RSUD S.K. Lerik. Jenazah kemudian diantar pulang ke rumahnya dibilangan pelabuhan Bolok, Kota Kupang dengan menggunakan mobil ambulance milik RSUD S.K. Lerik. (jem/dev/nz)
Dapatkan sekarang