Kupang, NTTzoom.com – Keluarga YBS (9) siswa SD di Kabupaten Ngada, NTT yang ditemukan tewas gantung diri, ternyata tidak pernah menerima bantuan sosial hanya karena masalah sepele, terkendala administrasi kependudukan.
Hal ini diungkap Gubernur NTT Melkianus Laka Lena, saat diwawancarai wartawan pada Rabu (04/02/2026). Melki menjelaskan perpindahan domisili keluarga korban dari Nagekeo ke Jerebuu, Ngada, belum diikuti dengan pembaruan data adminduk, sehingga mereka tidak tercatat sebagai penerima bantuan sosial.
“Ini cuma soal di atas kertas, soal administrasi kependudukan. Tapi dampaknya fatal. Karena itu mereka tidak dapat bantuan,” tegas Melki.
Ia menyebut kondisi tersebut sebagai kegagalan sistem pengaman sosial yang harus segera dibenahi.
Gubernur pun menginstruksikan seluruh kepala daerah, camat, lurah, kepala desa, RT/RW, hingga tokoh agama, adat, pemuda, dan perempuan untuk aktif mencari warga miskin yang belum terdata dan segera membereskan administrasinya.
“Siapa pun yang miskin wajib masuk data. Jangan sampai lagi ada orang susah tidak dapat bantuan hanya karena persoalan adminduk,” katanya.
Selain memperkuat sistem jaring pengaman sosial, Melki juga mendorong pembentukan mekanisme respons cepat, termasuk kemungkinan dana sosial darurat agar bantuan bisa langsung dieksekusi tanpa birokrasi panjang saat kejadian serupa muncul.
Ia berharap tragedi ini menjadi yang terakhir dan pemerintah mampu mendeteksi persoalan sosial sejak dini agar tidak ada lagi anak-anak NTT yang menjadi korban akibat kemiskinan dan kelalaian sistem. (es)
Dapatkan sekarang