KUPANG, NTTzoom.com - Pasca viral hasil pengumuman seleksi prajurit TNI beberapa waktu lalu, Kepala Ombudsman RI Perwakilan NTT, Darius Beda Daton dan Komandan Korem (Danrem) 161 Wira Sakti Kupang, Brigjen TNI Joao Xavier Barreto Nunes melakukan pertemuan pada Selasa (24/06/2025) di Makorem 161 Wira Sakti Kupang.
Dalam pertemuan tersebut, Darius Beda Daton menyampaikan sejumlah keluhan masyarakat, terkait proses seleksi penerimaan calon bintara dan calon tamtama, yang dilaksanakan di Korem 161 Wira Sakti Kupang tahun 2025.
Keluhan itu antara lain, proses pendaftaran dan validasi tidak dilakukan pada jam kantor namun di luar jam kantor bahkan hingga malam hari.
Selain itu, jadwal validasi dimajukan dari waktu yang telah ditentukan sebelumnya, sehingga para calon prajurit yang berasal dari luar daerah, tidak bisa melakukan validasi setelah mendaftar di kabupaten masing-masing.
Darius juga menyoroti surat pengumuman yang dikeluarkan pihak korem tidak menggunakan stempel padahal merupakan surat resmi terkait hasil tes para calon prajurit.
"Sistem rekrutmen harus ada pengawas eksternalnya seperti LSM, media massa dan lain-lain. Sama seperti rekrutmen di instansi lain, ada pengawas eksternalnya. Sehingga semua tahapan seperti pak Danrem sampaikan, ada yang pulp up, push up, itu ada pengawas eksternalnya yang hitung. Kalau internal saja 'kan itu sudah menimbulkan orang kecurigaan macam-macam. Kalau ada eksternal kan lebih transparan lagi," ujar Darius
Selain pada sistem rekrutmen dan pengawasan, Darius juga menyoroti tahapan seleksi yang masih dilakukan di Denpasar-Bali. Menurutnya, hal ini sangat membebani orang tua para calon siswa yang gagal karena harus mengeluarkan biaya yang mahal, untuk kembali ke Kupang.
"Kita perlu minta komitmen beliau (danrem). Seleksinya dilakukan di Kupang. Sama seperti polri 'kan di Kupang. Kita punya sistem CAT untuk tes akademik 'kan di sini ada. Ada BKN, ada Politeknik, Uyelindo, ada Undana, sehingga anak-anak tidak perlu ke Denpasar lagi. Bayangkan kalau di sana mereka tidak lulus di akademik, harus pulang lagi. Biayanya mahal," ujar Darius kepada nttzoom.com
Menanggapi hal tersebut, Komandan Korem 161/Wirasakti Kupang, Brigjen TNI Joao Xavier Barreto Nunes mengatakan, antusiasme masyarakat NTT untuk menjadi anggota TNI AD tahun ini sangat tinggi.
Tercatat ada 10.707 peserta untuk calon tamtama dan 6.251 peserta untuk calon bintara.
Sehingga seluruh sumber daya dan tenaga, dikerahkan untuk menyelenggarakan seleksi yang panjang dan melelahkan.
"Dari 10 ribuan yang divalidasi, mulai dari tinggi badan, berkas seperti ijazah dan lain-lain, itu hanya 6.556 yang lolos. Dari validasi masuk ke kesehatan, yang lulus hanya 6.050 orang, itu cukup banyak," kata Danrem Joao.
Menurutnya, banyaknya peserta ini membuat panitia bekerja ekstra, demi membangun masa depan dan pertahanan bangsa.
"Anggota saya dari jam 7 pagi sampai jam 2 subuh. Waduhh sedih saya. Dia tidur sebentar, jam 7 pagi sudah mulai lagi. Itu bapak ibu bisa bayangkan. Tapi kami terbuka dan menyampaikan terima kasih atas masukan dan saran dalam proses seleksi penerimaan ini," lanjut Danrem Joao.
Menurutnya kekurangan pasti ada dan semua saran perbaikan serta masukan akan menjadi pertimbangan untuk perbaikan rekrutmen di masa mendatang.
Dia berpesan, perekrutan prajurit TNI bukan sekadar mencari tenaga, tetapi membangun masa depan pertahanan bangsa.
"Jangan biarkan harapan generasi muda yang jujur dan berprestasi kandas hanya karena sistem rekrutmen," tutupnya. (es/nz*)
Dapatkan sekarang