KUPANG, nttzoom.com - Keracunan massal yang terjadi di Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 8 Kupang - Nusa Tenggara Timur (NTT), menghebohkan masyarakat, Selasa (22/07/2025).
Ratusan pelajar ini harus mendapatkan perawatan medis di tiga rumah sakit yakni IGD RSUD SK Lerik Kupang, RS Mamami dan RS Siloam, dengan keluhan pusing, mual dan muntah-muntah.
Menurut Kepala SMP Negeri 8 Kupang, NTT, Maria Roslin Lana, kejadian luar biasa ini terjadi sekira pukul 07.30 Wita, saat kegiatan belajar mengajar (KBM) akan dimulai.
Awalnya, anak-anaknya mengalami gejala pusing, mual dan muntah, dan harus bolak balik meminta izin untuk ke toilet.
Guru wali kelas pun mengarahkan para siswa yang merasa sakit, untuk dilakukan pertolongan pertama oleh petugas di ruang UKS, dengan memberi minum air hangat dan menggosok minyak angin ke perut siswa.
Bukannya sembuh, siswa yang mengeluhkan gejala yang sama malah semakin banyak.
"Karena semakin banyak dan tidak bisa kami tangani maka kami rujuk ke rumah sakit, setelah saya lapor ke dinas pendidikan melalui pengawas sekolah," ungkap Roslin.
Menurut Roslin, dari total 1050 siswa, setidaknya ada 111 siswa yang keracunan. Para pelajar yang keracunan merupakan siswa kelas 7,8 dan 9, dengan korban terbanyak berasal dari kelas 7.
"Saya juga tanya, saat kalian rasa tidak enak, terus dicium basi, kenapa dimakan, mereka jawab, kami lapar ibu." jelas Roslin.
Roslin mengaku sangat terkejut pasalnya, sejak 17 Februari 2025, saat program MBG ini dijalankan, tidak ada masalah yang terjadi karna sekolahnya menjadi sekolah percontohan untuk Program MBG yang disalurkan melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kelapa Lima.
Sehingga, setiap harinya, SMP 8 Kupang mendapat jatah 1.050 paket MBG yang dibagikan kepada siswa pada pukul 10.00 Wita saat jam istirahat.
Meski keracunan ini diduga kuat seusai menyantap MBG, Roslin belum yakin dan mengambil kesimpulan bahwa keracunan ini diakibatkan oleh menu MBG.
"dugaan awal makanan yang kemarin tapi saya belum berani ambil kesimpulan apapun." pungkas Roslin.
Sementara itu, dari pengakuan para siswa, gejala keracunan itu sudah mereka rasakan sejak Senin siang usai menyantap Makanan Bergizi Gratis (MBG) namun dikira sebagai hal biasa.
"Awalnya anak mengeluh pusing pas pulang sekolah. Pas subuh jam 3, dia bolak balik ke toilet, katanya sakit perut. Pagi mau ke sekolah, sakit lagi. Bolak balik ke toilet terus." ujar Yoldi Gasper, orang tua siswa.
Pasca keracunan massal ini, distribusi MBG yang sudah dijadwalkan pada hari Selasa pun dibatalkan. Ribuan paket makanan itu diletakkan begitu saja di depan kelas. Sementara ratusan siswa lain yang dalam keadaan sehat, akhirnya dipulangkan ke rumah masing-masing. (es/nz)
Dapatkan sekarang