KUPANG, NTTZOOM-Tiga tahun kepemimpinan gubernur dan wakil gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat-Josef Nae Soi masih menjadi isu menarik untuk diperbincangkan.
Seperti yang terjadi dalam Talk Show yang digelar Gaharu News.com, Selasa (21/9). Dialog yang berlangsung di Hotel Aston itu menghadirkan lima narasumber yang mengupas tuntas kepemimpinan dua politisi itu dari bebagai perspektif.
Bukan hanya narasumber. Peserta yabg hadirpun mewakili berbagai kalangan yang memberikan komentar dari banyak sudut pandang.
Pius Rengka hadir sebagai staf khusus gubernur, Darius Beda Daton sebagai Kepala Ombudsman RI Perwakilan NTT, Cosmas Lana sebagai Kepala Bappelitbangda NTT dan Alfred Baun sebagai Ketua ARAKSI NTT. Keempat narasumber itu hadir secara langsung. Sementara pengamat politik Honning Sanny berbicara secara virtual dari Jakarta
Dalam talk show tersebut, para nara sumber berbicara terkait janji politik, visi, misi dan realisasi program serta output yang dihasilkan.
Pius Rengka membuka diskusi dengan menyebut Viktor Bungtilu Laiskodat sebagai gubernur viral, gubernur kontroversial dan gubernur fenomenal.
"Gubernur kita ini punya mimpi yang begitu besar. Namun, mohon maaf, teman-teman di birokrasi harus menerjemahkan sesuai aturan. Makanya gubernur sering bilang harus berpikir out of the box," kata Pius.
Sementara Darius Beda Daton menyebutkan, data yang masuk ke Ombudsman terkait keluhan pelayanan publik di pemprov NTT dan Gubernur NTT tergolong minim. Pasalnya, dari hampir 900 keluhan yang masuk pada 2020 lalu, keluhan yang ditujukan ke gubernur NTT, kurang dari 100. Hal ini menurut dia bisa terjadi karena tiga alasan.
"Bisa karena memang pelayanan publik sudah bagus, bisa karena orang NTT memang pasif atau mereka takut karena gubernurnya galak. Takut dilaporkan ke polisi," kata Darius.
Sementara Cosmas Lana memaparkan tentang ide dan gagasan gubernur yang diterjemahkan ke dalam RPJMD serta dijabarkan dalam APBD.
Menurut Cosmas, sejumlah kritikan terkait kegagalan program pengembangan ikan kerapu, kelor, TJPS dan lainnya. Namun harus dipahami, mana yang dinamanakan belanja pemerintah dan mana yang belanja investasi.
Menurut dia, ada filosofi dalam program TJPS yang perlu dipahami. Secara harfiah, tidak mungkin menanam jagung lalu panen sapi. Yang ada, hasil panen jagung dijual lalu diinvestasikan dengan membeli ternak, mulai dari sapi, kambing, ayam dan kambing.
"Kemudian ada nilai edukasi di sana. Bahwa selama ini yang ditur itu bukan lahannya," sambung dia.
Dalam dialog yang dipandu Rudi Tokan itu, Ketua Araksi Alfred Baun menyebutkan, postur anggaran dalam sejumlah program yang tertuang dalam APBD NTT menimbulkan banyak pertanyaan. Misalnya dana TJPS lebih dari Rp 25 miliar. "Tapi hasilnya bagaimana. Ikan kerapu juga," kata Alfred.
Ketua DPD Hanura NTT, Refafi Gah yang juga Anggota Komisi IV DPRD NTT secara tegas mengatakan, gubernur Viktor adalah satu-satunya gubernur yang mampu membangun infrastruktur jalan provinsi sepanjang lebih dari 900 kilometer dalam waktu kurang dari tiga tahun.(cd3/nz)
Dapatkan sekarang