LEMBATA, NTTZOOM.COM – Rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Atadei berkapasitas 2×5 megawatt (MW) mendapat dukungan masyarakat Desa Nubahaeraka, Kecamatan Atadei, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT). Dukungan tersebut disertai harapan agar pembangunan tetap menjaga kelestarian lingkungan serta menghormati kehidupan sosial, budaya, dan agama masyarakat setempat.
Dukungan itu mengemuka dalam sosialisasi yang digelar PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Nusa Tenggara (UIP Nusra) di Desa Nubahaeraka, Kamis (15/10). Forum tersebut menjadi ruang bagi masyarakat untuk memperoleh informasi mengenai tahapan persiapan proyek, manfaat yang diharapkan, potensi dampak, serta langkah mitigasi yang disiapkan PLN.
Sosialisasi turut dihadiri Staf Ahli Bupati Lembata Donatus Boli Ladjar, Ketua DPRD Lembata Syarifudin Sirra bersama anggota DPRD, perwakilan perangkat daerah, Kantor Pertanahan Kabupaten Lembata, Polres Lembata, Koramil 1624/03 Lembata, Camat Atadei Marianus Demoor, para kepala desa se-Kecamatan Atadei, serta jajaran manajemen PLN UIP Nusra.
Staf Ahli Bupati Lembata, Donatus Boli Ladjar, menegaskan bahwa pengembangan energi panas bumi harus berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan dan kepentingan generasi mendatang.
“Kita kembali pada komitmen kita semua untuk tetap semangat. Mari kita dukung dengan beberapa catatan bahwa bumi dan lingkungan tidak boleh rusak sama sekali. Anak-anak dan generasi muda kita juga harus menikmati manfaat pembangunan ini,” ujar Donatus.
Ia juga mengingatkan agar pembangunan PLTP tidak mengganggu kehidupan sosial, budaya, maupun agama yang tumbuh di tengah masyarakat Atadei. Menurutnya, sosialisasi menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk memahami rencana pekerjaan, termasuk potensi dampak dan manfaat yang dapat dirasakan.
Donatus menjelaskan, pengembangan kawasan tersebut juga direncanakan mencakup peningkatan infrastruktur jalan beraspal hotmix sepanjang 6,7 kilometer serta instalasi perpipaan untuk mendukung kebutuhan air dalam kegiatan proyek. Sumber air direncanakan berasal dari wilayah Waiteba.
Sementara itu, Camat Atadei, Marianus Demoor, mengajak masyarakat memanfaatkan forum sosialisasi untuk memahami informasi secara menyeluruh dan menyampaikan pertanyaan maupun masukan. Ia juga berharap warga yang hadir dapat meneruskan informasi kepada masyarakat lainnya agar pemahaman mengenai rencana pembangunan semakin luas.
“Saya mengajak kita semua mengikuti sosialisasi ini secara menyeluruh agar informasi mengenai dampak pembangunan PLTP yang disampaikan hari ini dapat kita dengar bersama. Bapak dan Ibu yang hadir juga dapat menjadi penyambung informasi kepada saudara-saudara kita yang lain,” kata Marianus.
Dari pihak PLN, Manager Perizinan dan Komunikasi PT PLN (Persero) UIP Nusra, Bobby Robson Sitorus, menjelaskan bahwa penyampaian informasi mengenai tahapan pembangunan, potensi dampak, dan langkah mitigasi merupakan bagian penting dalam mempersiapkan proyek.
“Kami ingin masyarakat memahami apa yang akan dikerjakan, manfaat yang diharapkan, serta potensi dampak dan langkah mitigasinya. Karena itu, melalui sosialisasi ini kami membuka ruang dialog untuk mendengar dan menindaklanjuti pertanyaan, kekhawatiran, maupun saran masyarakat,” ujar Bobby.
Ia menambahkan, PLN berkomitmen memperhatikan perlindungan lingkungan, keselamatan masyarakat, serta penghormatan terhadap adat dan budaya setempat. Koordinasi dengan pemerintah daerah dan masyarakat juga akan terus dilakukan agar setiap tahapan persiapan proyek mempertimbangkan ketentuan yang berlaku dan kondisi di lapangan.
General Manager PT PLN (Persero) UIP Nusra, RDW. Manurung, menegaskan bahwa keterbukaan informasi dan pelibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam pengembangan infrastruktur ketenagalistrikan, terutama proyek energi panas bumi yang bersinggungan langsung dengan lingkungan dan kehidupan warga.
“Pembangunan PLTP Atadei harus dipersiapkan dengan mengedepankan keterbukaan informasi, keselamatan, dan penghormatan terhadap masyarakat setempat. Kami ingin proses ini berjalan melalui komunikasi dan koordinasi yang baik, sehingga masyarakat memahami tahapan pembangunan, dapat menyampaikan aspirasi, dan mengetahui langkah-langkah yang disiapkan untuk memitigasi potensi dampaknya,” ujar Manurung.
Menurutnya, koordinasi dengan pemerintah daerah dan masyarakat akan terus dilakukan dalam setiap tahapan persiapan proyek. Dengan pendekatan tersebut, pengembangan energi panas bumi di Atadei diharapkan dapat mendukung kebutuhan listrik sekaligus memperhatikan kelestarian lingkungan dan nilai-nilai sosial budaya masyarakat.
Di Desa Nubahaeraka, rencana pengembangan PLTP Atadei mencakup titik AT 1 seluas 1,7 hektare dan AT New 1 seluas 2,4 hektare. Proses pembebasan lahan untuk kedua titik tersebut dilaporkan telah selesai.
PLTP Atadei direncanakan memiliki kapasitas 2×5 MW dan menjadi bagian dari upaya pengembangan energi panas bumi di Nusa Tenggara Timur. Melalui komunikasi terbuka dan kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, PLN UIP Nusra berharap persiapan proyek dapat berjalan dengan memperhatikan aspirasi masyarakat, keselamatan, serta keberlanjutan lingkungan di Kabupaten Lembata.[nz]
Dapatkan sekarang