Kupang, NTTzoom.com – Universitas Katolik Widya Mandira (UNWIRA) Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), memperkenalkan konsep baru pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) melalui Program Desa Binaan yang mengedepankan pendampingan berkelanjutan kepada masyarakat, bukan sekadar pengabdian selama satu bulan.
Program tersebut mulai diterapkan di Desa Nekmese, Kecamatan Amarasi Selatan, Kabupaten Kupang, sebagai proyek percontohan yang diharapkan dapat dikembangkan ke berbagai daerah lain di NTT.
Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UNWIRA, Yuliana Paula Yanti, mengatakan konsep Desa Binaan memiliki perbedaan mendasar dibandingkan program KKN pada umumnya.
"Desa Binaan ini kurang lebih sama dengan program KKN yang lain, namun penekanannya ada pada beberapa program yang pendampingannya akan berkelanjutan. Ini merupakan implementasi Tridharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat. Kami punya komitmen agar program ini benar-benar berdampak sehingga UNWIRA dapat memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat," ujar Yuliana saat peluncuran Program Desa Binaan, Jumat (10/7/2026).
Menurutnya, seluruh program yang dijalankan mahasiswa telah disusun berdasarkan hasil identifikasi kebutuhan masyarakat, sehingga setiap kegiatan memiliki sasaran yang jelas dan dapat dilanjutkan pada tahun-tahun berikutnya.
Salah satu contohnya adalah program Air Masuk Desa. Pada tahun pertama, mahasiswa ditugaskan melakukan pemetaan dan pendataan kebutuhan air bersih di seluruh dusun di Desa Nekmese. Data tersebut akan menjadi dasar penyusunan program lanjutan bersama mitra Solar Chapter Indonesia.
"Kami diminta melakukan survei air bersih di semua dusun. Nantinya semua data masyarakat terkait kebutuhan air bersih akan menjadi dasar pelaksanaan program lanjutan pada tahun berikutnya," jelas Yuliana.
Selain itu, UNWIRA juga menjalankan program literasi yang diawali dengan asesmen di empat sekolah mitra. Hasil asesmen tersebut menjadi dasar penyusunan kegiatan belajar yang disesuaikan dengan kemampuan setiap siswa.
"Programnya menyesuaikan hasil asesmen. Anak-anak yang belum bisa membaca akan didampingi hingga mampu membaca. Yang sudah bisa membaca akan ditingkatkan kemampuannya, sedangkan yang sudah mampu menulis akan didampingi menghasilkan karya. Produk akhirnya berupa buku yang akan dipamerkan pada akhir kegiatan," katanya.
Program berkelanjutan lainnya meliputi pengembangan UMKM berbasis digital, pelestarian budaya lokal, pencegahan stunting, penanggulangan kemiskinan ekstrem, hingga pengembangan pakan ternak sesuai kebutuhan masyarakat Desa Nekmese.
Rektor UNWIRA Kupang, Pater Stefanus Lio, menegaskan bahwa Desa Binaan merupakan bentuk implementasi kebijakan nasional tentang kampus yang berdampak bagi masyarakat.
"Keberhasilan perguruan tinggi tidak hanya diukur dari capaian akademik dan publikasi ilmiah, tetapi juga dari sejauh mana kehadirannya mampu menciptakan perubahan positif, memberdayakan masyarakat, meningkatkan kualitas hidup, serta membangun kemandirian desa secara berkelanjutan," ujarnya.
Menurutnya, kampus harus menjadi mitra pembangunan yang bekerja bersama masyarakat, bukan sekadar datang melaksanakan kegiatan lalu meninggalkan desa tanpa tindak lanjut.
"Kampus harus hadir sebagai mitra pembangunan yang bekerja bersama masyarakat, dan bukan bekerja untuk masyarakat," tegasnya.
Pater Stefanus berharap Desa Nekmese menjadi model pengembangan Program Desa Binaan yang nantinya dapat diterapkan di berbagai wilayah lain di NTT.
"Karena ini kita launching sebagai pilot project Desa Binaan UNWIRA, pengalaman yang diperoleh di Nekmese akan menjadi dasar untuk mengembangkan desa binaan di kabupaten lain di NTT," katanya.
Melalui konsep tersebut, UNWIRA menargetkan program pengabdian masyarakat tidak berhenti ketika masa KKN berakhir, tetapi terus berlanjut melalui pendampingan, evaluasi, serta kolaborasi dengan pemerintah, masyarakat, dan berbagai mitra sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara berkesinambungan.(es)
Dapatkan sekarang