* Posyandu Melati 8 RT 041 RW 01 Kelurahan Liliba Kota Kupang NTT
Oleh : David Loba S.Pd.,M.Pd (Dosen FKIP PJKR UKAW Kupang)
SEBAGAI warga masyarakat yang juga pengurus RT 041 (Sekretaris RT 041) mempunyai tugas yang harus dilaksanakan sebagai bagian dari pelayan untuk masyarakat, secara umum tidak terlepas dari tugas pokok saya sebagai dosen di Universitas Kristen Artha Wanaca (UKAW) Kupang untuk melayani mahasiswa pada Program Studi(Prodi) FKIP PJKR untuk selalu membagi waktu karena bagian ini tidak terlepas dari ranah pengajaran, pegabdian pada masyarakat, penelitian dan penunjang akademik Dosen. Ini saya lakukan dengan penuh ketekunan serta tetap bersyukur menjalaninya dengan baik walau ada tantangan serta resiko dalam menjalaninya.
Berbagai referensi serta sumber lain memberikan tanggapan serta paparan pendapat serta teori tentang apa itu stunting. Stunting adalah kondisi ketika tinggi badan anak lebih pendek dari pada standar usianya akibat kekurangan gizi dalam jangka panjang. Kondisi ini bisa disebabkan oleh malnutrisi yang dialami ibu saat hamil atau anak pada masa pertumbuhannya.
Berdasarkan data WHO, suatu negara dikatakan mengalami masalah stunting bila jumlah kasusnya berada di atas 20%. Sementara itu, berdasarkan data tahun 2018, jumlah kasus stunting di Indonesia adalah sebanyak 30,8%, atau tiga dari sepuluh anak Indonesia. Oleh karena itu, stunting masih menjadi masalah yang harus segera ditangani. (https://www.alodokter.com/stunting).
Hal ini di RT 041 khususnya di wilayah pemerintah kelurahan Liliba di dapatkan data berjumlah 18 orang anak yang mengalami stanting atau kurang gizi.
* Faktor risiko stunting yang terjadi di RT 041 RW 01 Kelurahan liliba kota Kupang
Risiko terjadinya stunting pada anak bisa meningkat jika ibu hamil memiliki beberapa kondisi atau faktor berikut: Intrauterine growth restriction (IUGR) perawakan pendek, berat badan ibu tidak naik selama kehamilan, tingkat pendidikan rendah, kemiskinan tinggal di lingkungan dengan sanitasi buruk dan tidak mendapatkan akses untuk air bersih (https://www.alodokter.com/stunting).
Sedangkan pada anak, beberapa kondisi yang meningkatkan risikonya mengalami stunting adalah: Mengalami penelantaran tidak mendapatkan ASI eksklusif, Mendapatkan gizi MPASI yang berkualitas buruk, menderita penyakit yang menghalangi penyerapan nutrisi, seperti penyakit TBC, anemia, penyakit jantung bawaan, infeksi kronis, serta sindrom malabsorbsi. Hal ini harus dilakukan dengan sebaik-baiknya agar resiko stunting dapat di atasi dengan baik dan terhindar dari berbagi kondisi penyakit serta penagan dari sisi gizi. Melihat wenome yang terjadi tersebut maka pengurus RT melakukan terobosan serta kerja sama yang baik antara pemerintah, masyarakat untuk segera melakukan tindakan nyata lewat pemberian makan tambahan atau PMT di posyandu tersebut bersama para kader setempat.
Fakta di lapangan terkhususnya di RT 041 ada 7 orang anak yang mengalami stunting serta 10 orang anak tambahan dari wilayah RT lain yang bergabung di posyandu Melati 8. Beberapa hal yang perlu disimak dari Gejala Stunting yang dikutib dari (https://www.alodokter.com/stunting) sebagai berikut: Gejala stunting sering tidak disadari, karena anak hanya diduga memiliki tubuh yang pendek. Meski demikian, gejala stunting umumnya bisa terlihat saat anak berusia 2 tahun. Salah satu gejala yang menunjukkan anak mengalami stunting adalah: Tubuh anak lebih pendek dibandingkan standar tinggi badan anak seusianya. Berat badan anak bisa lebih rendah untuk anak seusianya, Pertumbuhan tulang terhambat, Mudah sakit Gangguan belajar Gangguan tumbuh kembang. Bila menderita penyakit kronis, anak dengan stunting bisa mengalami sejumlah gejala berikut: Tidak aktif bermain, Batuk kronis, demam, serta berkeringat pada malam hari, Tubuh anak membiru ketika menangis (sianosis), Sering lemas., Sesak napas, Ujung jari berbentuk seperti tabuh (clubbing finger), Bayi tidak dapat menyusu dengan baik.
* Bentuk pencegahan dari para kader posyandu dan Pengurus RT 041
Oleh sebab itu, stunting bisa dicegah dengan menghindari faktor-faktor yang dapat meningkatkan risikonya. Upaya yang bisa dilakukan antara lain: Memenuhi asupan gizi yang cukup sebelum merencanakan kehamilan dan selama kehamilan, Mencukupi asupan gizi, terutama selama 1.000 hari pertama kehidupan, yaitu sejak pembuahan sel telur hingga anak berusia 2 tahun, memberikan Air Susu Ibu (ASI) secara eksklusif hingga bayi berusia 6 bulan, memastikan anak mendapatkan imunisasi lengkap, melihat sumber di atas tentang pencegahan maka pengurus bekerja sama dengan para masyarakat donator untuk menyumbang berbagai kebutuhan pokok seperti telur, susu, beras, kacang hijau, gula lempeng dan lain-lain dikumpulkan di balai pertemuan di salah satu tempat rumah ketua kader.
Pelaksanaan pemberian makanan tambahan rutin dilakukan setiap hari, pagi dan sore terhitung 90 hari kerja oleh para kader dengan penuh semangat untuk membantu pemerintah dalam memberantas stunting anak di wilayah tersebut untuk menciptakan generasi penus bangsa yang sehat dan cerdas.***
Dapatkan sekarang