KUPANG, NTTZOOM-Petugas mitra Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Kupang terus melakukan pendataan di wilayah Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
Seperti yang disaksikan media ini, Kamis (8/6), petugas Sensus Pertanian (ST) 2023 datang dengan menggunakan atribut lengkap. Rumah yang didatangi yaitu Eduard Susang, warga RT02/RW01, Kelurahan Oesapa Barat, Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang, NTT.
Petugas yang mendatangi rumah Eduard Susang itu bernama Siti Rukiah dan Irene Medi. Keduanya datang untuk mengambil data Sensus Pertanian (ST) tahun 2023. Seperti Luas lahan; Jenis Irigasi; Tanaman semusim dan tahunan (luas tanam/jumlah pohon/rumpun); Peternakan (jumlah ternak menurut kelompok umur, pemakaian pakan, dan parameter mutasi ternak); Jumlah rumah tangga pertanian menurut subsektor; rumah tangga yang melakukan pengolahan hasil pertanian, rumah tangga yang melakukan jasa pertanian; karakteristik sosial demografi (jenis kelamin, umur, dan kegiatan pertanian yang dilakukan); Kondisi sosial ekonomi masyarakat di sekitar kawasan hutan.
Dijelaskan Siti Rukiah, mereka adalah mitra BPS dalam melakukan ST2023. Dirinya bersama teman petugas yang melakukan pendataan ST2023 di RT19, Kelurahan Oesapa itu mendapat penolakan oleh salah satu warga dengan dalil, selama ini tidak pernah ada pemerintah yang memberikan bantuan kepadanya.
"Waktu saya dengan petugas ambil data di RT19 Oesapa itu, ada mama satu yang usir kami. Katanya, selama ini tidak ada pemerintah yang membantunya," kata Siti menirukan ucapan warga tersebut.
Namun, kata Siti, mereka terus mencoba untuk menjelaskan tujuan kedatangan mereka tetapi sama sekali tidak direspon oleh warga tersebut. "Kami sudah mencoba untuk menjelaskan tapi tidak terima juga. Nah, kami sudah laporkan kejadian di lapangan itu ke pihak BPS Kota Kupang, yaitu pihak pengawas," cetusnya.
Dia jelaskan, sejauh ini mereka melakukan pendataan di dua lokasi berbeda, yaitu di RT01, Kelurahan Oesapa Barat, Kecamatan Kelapa Lima dan RT19, Kelurahan Oesapa, Kecamatan Kelapa Lima. "Kami sudah selesai ambil data di RT19 Oesapa dan ini masuk di RT01 Oesapa Barat," ungkapnya.
Dikatakan, dari dua lokasi yang mereka data tersebut, lebih banyak masyarakat atau warga yang memilih untuk beternak sedangkan untuk bidang pertanian sendiri sangat minim. "Lebih banyak itu pelihara babi (beternak) untuk pertanian sedikit saja," sambungnya.
Sementara Kepala BPS Kota Kupang, Ramly Kurniawan Tirtokusumo menjelaskan, sebagai Kepala BPS Kota Kupang, ia belum mendapat laporan terkait kejadian yang dialami para petugas Sensus Pertanian tersebut. Namun, kata dia, jika benar ada kejadian seperti itu, dirinya akan melakukan koordinasi dengan Petugas Pengawasan atau PLM untuk segera mengunjungi ulang responden yang menolak ST2023 dengan meminta bantuan dari Ketua RT atau aparat kelurahan setempat untuk memberikan penjelasan yang baik.
"Untuk saat ini belum ada kendala yang berarti. Semua petugas berjalan lancar dan aman. Saya belum mendapat informasi terkait hal tersebut. Tapi kalau ada responden yang menolak petugas Sensus Pertanian nanti dilakukan koordinasi dengan PML (petugas pengawas) untuk kunjungi ulang dan minta bantuan ketua RT atau aparat kelurahan. Terima kasih," tulis Ramly melalui pesan WhatsApp. Kamis (8/6).
Ramly mengimbau seluruh masyarakat Kota Kupang agar jangan menolak para petugas ST2023.
"Saya meminta agar masyarakat jangan menolak para petugas kami, karena ini untuk kebaikan bersama kita. Baik dari pemerintah maupun masyarakat itu sendiri," tandasnya.
Dijelaskan, kegiatan ini mencakup pertanian dalam sensus pertanian 2023 meliputi enam subsektor, yaitu tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, peternakan, perikanan dan kehutanan. Untuk menyediakan data yang dapat digunakan sebagai tolok ukur statistik pertanian saat ini, serta menyediakan kerangka sampel untuk survei pertanian lanjutan.
Dia jelaskan, di Kota Kupang terdapat wilayah-wilayah yang konsentrasi dan nonkonsentrasi. Dikisahkan, konsentrasi itu seperti di wilayah Naioni dan Fatukoa. "Itu dua daerah yang masyarakatnya masih bergerak di sektor pertanian," bebernya.
Untuk di pusat Kota Kupang, kata Ramly, sebagian besar masyarakat berada di metode nonkonsentrasi. Pasalnya, sebagian masyarakat masih bergerak di bidang peternakan. "Mereka yang di dalam kota ini, masih bergerak di bagian peternakan," sebutnya.
Untuk diketahui, ST2023 ini berlangsung sejak tanggal 1 Juni hingga 31 Juli 2023.(jem/cd3/nz)
Dapatkan sekarang