‎Restu Adat Iringi Pengukuhan POKJA Pengadaan Tanah PLTP Atadei di Lembata
‎Tokoh masyarakat, Yoseph Beda Lein, pimpin prosesi adat pengukuhan Tim Kelompok Kerja (POKJA) Pengadaan Tanah untuk pembangunan PLTP Atadei yang digelar di Desa Nubahaeraka, Jumat (10/04/2026).
‎Restu Adat Iringi Pengukuhan POKJA Pengadaan Tanah PLTP Atadei di Lembata
‎Tokoh masyarakat, Yoseph Beda Lein, pimpin prosesi adat pengukuhan Tim Kelompok Kerja (POKJA) Pengadaan Tanah untuk pembangunan PLTP Atadei yang digelar di Desa Nubahaeraka, Jumat (10/04/2026).
‎Restu Adat Iringi Pengukuhan POKJA Pengadaan Tanah PLTP Atadei di Lembata
‎Tokoh masyarakat, Yoseph Beda Lein, pimpin prosesi adat pengukuhan Tim Kelompok Kerja (POKJA) Pengadaan Tanah untuk pembangunan PLTP Atadei yang digelar di Desa Nubahaeraka, Jumat (10/04/2026).
Redaksi
10 Apr 2026 23:09 WITA

‎Restu Adat Iringi Pengukuhan POKJA Pengadaan Tanah PLTP Atadei di Lembata

Lembata, NTTzoom.com — Pembangunan infrastruktur energi di Kabupaten Lembata tidak hanya menitikberatkan aspek teknis, tetapi juga menjunjung tinggi nilai budaya dan kearifan lokal. Hal ini terlihat dalam seremonial adat pengukuhan Tim Kelompok Kerja (POKJA) Pengadaan Tanah untuk pembangunan PLTP Atadei yang digelar di Desa Nubahaeraka.

‎Prosesi adat yang berlangsung khidmat dipimpin tokoh masyarakat setempat, Yoseph Beda Lein, sebagai bentuk pengakuan dan restu adat terhadap langkah bersama yang akan dijalankan. Dalam tradisi masyarakat setempat, setiap keputusan besar harus melalui ruang adat agar tetap selaras dengan nilai leluhur dan menjaga harmoni sosial.

‎Sekitar 70 peserta hadir dalam kegiatan ini, terdiri dari perangkat desa, unsur kecamatan, Tim POKJA Kabupaten dan Nubahaeraka, perwakilan Subsektor Atadei, Posramil Atadei, masyarakat suku pemilik lahan, pemangku adat, serta perwakilan PLN UIP Nusra dan PLN UPP Nusra 3. Kehadiran berbagai unsur ini mencerminkan kebersamaan yang tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga emosional dan kultural.

‎Dalam sambutannya, Yoseph Beda Lein menekankan bahwa pembangunan harus menjadi jalan bersama untuk kehidupan yang lebih baik tanpa meninggalkan akar budaya.

‎“Mari kita berjalan bersama, menyatukan hati untuk terang di tanah ini. Pembangunan ini bukan hanya milik pemerintah atau PLN, tetapi milik kita semua. Kita jaga tanah ini, kita jaga adat kita, dan kita sambut masa depan dengan bijaksana,” ujarnya.

‎Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa listrik yang akan hadir di wilayah ini bukan hanya membawa terang secara fisik, tetapi juga membuka peluang peningkatan ekonomi, pendidikan, dan kesejahteraan masyarakat.

‎Sementara itu, General Manager PLN UIP Nusra, Rizki Aftarianto, menegaskan komitmen PLN untuk menjadikan adat dan budaya sebagai bagian dari fondasi pembangunan.

‎“Kami tidak datang untuk mengubah nilai yang sudah hidup di tengah masyarakat, tetapi justru ingin berjalan bersama, menghormati adat, dan memastikan setiap proses dilakukan dengan penuh keterbukaan dan keadilan. Kami percaya, ketika adat dihormati, maka kepercayaan akan tumbuh, dan pembangunan dapat berjalan dengan baik,” jelasnya.

‎Ia menambahkan, pembangunan PLTP Atadei merupakan bagian dari upaya menghadirkan energi bersih yang berkelanjutan, sekaligus memberi manfaat nyata bagi masyarakat lokal tanpa mengesampingkan kearifan yang telah ada.

‎Melalui pengukuhan POKJA yang dilandasi seremonial adat ini, PLN bersama masyarakat dan pemerintah daerah berkomitmen memastikan bahwa pembangunan PLTP Atadei tidak hanya berbicara tentang energi, tetapi juga tentang menjaga keseimbangan antara kemajuan dan kelestarian budaya.

‎Di Nubahaeraka, pembangunan tidak berdiri sendiri—ia tumbuh bersama adat, hidup bersama masyarakat, dan diarahkan untuk masa depan yang lebih baik bagi generasi mendatang. (nz)

Dapatkan sekarang

NTT Zoom, Ringan dan cepat
0 Disukai