Seniman Tato Kota Kupang, Raup Rp 20 Juta Sebulan 
Anju Tato menunjukkan keahliannya menggambar dengan mesin tato di salah satu bagian tubuh konsumennya, di Kota Kupang, pertengahan September 2021
Carlens
16 Sep 2021 14:52 WITA

Seniman Tato Kota Kupang, Raup Rp 20 Juta Sebulan 

MALAM itu hanya satu pelanggan. Satu gambar. Senin (13/9). Sesuai ukuran, harganya Rp 650.000. Dalam waktu sekira tiga jam, beres. 

Namanya Yanlens Mbuik. Tapi lebih dikenal dengan Anju Tato. 

Ada tambahan Tato di belakang namanya, karena Anju memilih tato sebagai profesinya. 

Sambil tarik sebatang rokok, Anju mempersiapkan perlengkapan tato. Mulai dari kertas bergambar. Kertas karton, mesin tato, tinta hingga perlengkapan yang berkaitan dengan protokol kesehatan Covid-19. 

Setelah gambar ditempelkan pada bagian tubuh yang diinginkan, Anju mulai memainkan jurus tato. 

"Semuanya masih steril. Expirednya 2026. Masa pembuatan 2021," kata Anju menunjuk beberapa bahan dan alat yang akan dipakai.

Saat mesin tato berbunyi, Anju pun mulai berkisah. Dia mulai mengenal seni tato sejak tahun 2004 dan 2005. Ketika itu, seniman tato di Kota Kupang masih tergolong langka. 

Dia memulai dengan mesin yang dirakit oleh kakanya. "Kelas 2 SMA, sudah mulai tato orang. semua dilakukan secara Otodidak. karena sudah hobby menggambar dari kecil," kisah Anju. 

Awalnya hanya mengisi waktu. Sekadar menyenangkan kawan. Atau mencari teman. Namun berkat kreativitasnya, hasil karyanya terus dicari. 

"Waktu kuliah, hampir DO (drop out) karena sudah tertarik dengan tato orang. Mulai dapat uang," sambung pria satu anak itu. 

Seni tato atau gambar di kulit manusia itu memang sebelumnya begitu seram dan tabu di mata masyarakat. Namun seiring perkembangan, tato sebagai seni, mulai diterima di NTT. Bahkan seniman tato pun terus bertambah. 

"Kalau yang sudah berstandar itu mendekati 40 orang. Kita pernah bikin festival tatto galang dana buat korban bencana alam  di rumah jabatan gubernur NTT tahun 2019," terang Anju. 

Dari mesin rakitan, dia kini sudah beralih ke mesin pabrikan. Bahkan dia sudah mengoleksi lebih dari 20 mesin. 

"Awalnya karena belum punya cukup uang, saya kredit. Tapi tidak lama sudah bayar lunas. Kalau mesin yang saya pakai saat ini harganya Rp 1.500.000. Kalau mesin paling bagus,ada yang Rp 20 juta lebih. Di Kupang mungkin belum ada yang pakai," lanjut Anju. 

Dia mengaku sudah memutuskan untuk menjadikan tato sebagai profesi. Padahal sebelumnya dia sempat bekerja di lembaga keuangan. Namun karena tato sudah menjadi keseharian, dia memutuskan untuk meneruskan bakatnya itu. 

Karena bicara tentang profesi masa depan, Anju pun tidak ragu-ragu untuk menyebut berapa upah yang dia dapat. 

"Tato paling mahal itu pernah Rp 6 juta. Itu gambar seluruh bagian belakang badan. Itu kita bertahap," sebutnya lagi. 

Upah yang dia terima dihitung sesuai jenis gambar dan ukuran. Karena ukuran dan jenis gambar juga menentukan berapa lama dia menggambar menggunakan mesin tersebut. 

"Pernah satu bulan saya dapat sampai Rp 20 juta lebih. Itu memang dapat yang gambar besar-besar dan ramai. Tapi selain itu, paling di bawah itu bisa Rp 10 juta sebulan," beber dia. 

Dengan pendapatan seperti itu, Anju mengaku punya cara tersendiri untuk investasi. Selain itu, peralatan tato pun selalu dia utamakan. Misalnya dengan mengganti mesin yang sudah mulai menua. Baik mesin dan suku cadang seperti tinta dan jarum, semuanya dibeli dari Pulau Jawa. 

"Ada yang kita pesan banyak untuk satu tahun. Jadi dapat lebih murah," jelasnya lagi. 

Di tengah pandemi saat ini, Anju mengaku tidak sepi orderan. Bisa dilayani di rumahnya, atau bisa dipanggil ke rumah konsumennya. Tentu dengan kesepakatan harga sebelum dimulai tato.(redaksi)

Dapatkan sekarang

NTT Zoom, Ringan dan cepat
0 Disukai