* Alex Foenay: Wisatawan Mancanegara Boleh Naik
KUPANG, NTTZOOM-Harga tarif masuk ke Taman Nasional Komodo awalnya sebesar Rp 150.000 per pengunjung. Namun sesuai kebijakan baru Pemerintah Provinsi NTT, tarif tersebut akan naik menjadi Rp 3,75 juta dan berlaku setahun penuh. Tarif baru ini berlaku untuk kunjungan ke Pulau Komodo dan Pulau Padar, sedangkan ke Pulau Rinca tarifnya tetap sama.
Anggota DPRD Provinsi NTT, Ir. Alexander Foenay ketika dimintai tanggapan menjelaskan, alasan kenaikan ini diberlakukan demi aspek konservasi lingkungan di Pulau Komodo dan Pulau Padar. Menurutnya, faktor ekonomi tidak berarti jika konservasi lingkungan tidak diperhatikan.
"Kita harus melihat secara jernih dulu, apakah untuk pemerintah provinsi dan pemerintah Kabupaten Manggarai Barat, karena ini untuk kenaikan tarif kan soal di sana mengenai sampah dan lain-lain. Itu juga harga untuk satu tahun," ungkapnya, Jumat (5/8).
Politikus Partai Perindo itu juga mengatakan, terkait dengan kenaikan tarif masuk TN Komodo yang awalnya Rp 150.000 menjadi Rp 3,750 juta itu untuk menjawab setiap kerusakan-kerusakan yang terjadi di TN Komodo.
"Dana itu akan menjadi bantuan juga ketika terjadi kerusakan di Destinasi Wisata TN Komodo yang mereka kunjungi. Dana-dana akan diambil dari situ (Kenaikan Tarif)," jelas Alex.
Politikus yang siap bertarung di Pilwalkot Kupang 2024 mendatang ini juga katakan, perlu dilihat secara seksama. Menurutnya, harus melihat karcis atau biaya masuk selama satu tahun itu mahal, berarti untuk kepentingan para wisatawan lokal harus ditinjau kembali.
Misalnya, untuk wisatawan lokal tarif masuknya tidak sama dengan tarif masuk untuk wisatawan mancanegara.
"Ini juga bagian dari bagaimana satu tahun itu mereka datang berapa kali, supaya karcis mereka juga bisa aktif. Artinya tidak mati, jadi kita jangan melihat dari sisi negatifnya saja," ungkapnya.
Anggota Komisi IV DPRD NTT itu meminta agar tarif untuk wisatawan lokal dalam artian masyarakat Indonesia yang berkunjung di TN Komodo seharusnya berbeda dengan tarif masuk wisatawan mancanegara.
"Kalau untuk saya, buat wisatawan lokal dalam artian masyarakat Indonesia seharusnya tarif itu dikasih turun, turun saja. Tapi kalau untuk wisatawan mancanegara, tidak apa-apa kalau tarifnya seperti itu, karena kita lihat, mata uang kita (Indonesia) berbeda. Apalagi ini untuk satu tahun punya, iya kan," jelasnya.
"Saya juga berpikir seperti ini, jika kita pergi berbelanja di toko-toko besar seperti toko Matahari itu ada harga mulai dari Rp 500.000 hingga Rp 1 juta itu kan kita dapat voucher yang Rp 50.000. Nah, dari Voucher itu kan memudahkah orang untuk beli kembali. Jadi orang masuk di situ tidak keluar-keluar lagi, malah mereka masuk terus," tambahnya.
Tapi, kata Alex, sebagai pemerintah provinsi seharusnya bijaksana untuk wisatawan lokal (Indonesia), sehingga mereka memiliki akses yang mudah ke TN Komodo.
"Yah, seharusnya kita juga bijaksana untuk wisatawan lokal, kasian juga mereka. Kan mereka bagian dari Manusia. Mereka jangan disepelekanlah, tidak boleh," jelasnya.
Alex Foenay juga katakan, ini kembali pada Pemerintah Provinsi dan kabupaten bahkan di nasional untuk membahas bersama karena TN Komodo adalah destinasi nasional dan juga sudah ditetapkan sebagai destinasi internasional sehingga TN Komodo sebagai pemasukan devisa untuk Negara Indonesia.
"Ini kan sudah ditetapkan dari berbagai pihak dan ini juga bagian dari wisata internasional, sehingga wisatawan mancanegara yang berkunjung itu kan bagian dari devisa untuk negara ini," sebutnya.
Kalau ada yang berkenan, Alex mengaku siap duduk dan selesaikan. Jangan lagi kita berdemonstrasi yang bersifat kepada kerugian sendiri. Karena berdampak bagi tenaga kerja yang bekerja di sana. Kuliner di sana mati, banyak orang yang kehilangan pekerjaan, terutama masyarakat kecil yang mencari makan minum setiap hari.(jem/cd3/nz)
Dapatkan sekarang