Tas Tertinggal, Identitas Terungkap: Fakta di Balik Pembunuhan di Lapak Semangka Kelapa Lima
Kapolresta Kupang Kota, Kombes Pol Djoko Lestari didampingi Kapolsek Kota Lama, AKP Rachmat Hidayat, saat memberikan keterangan pers terkait kronologi penbunuhan penjual semangka di Mapolres Kupang Kota, Kamis (16/10/2025).
Redaksi
17 Oct 2025 00:51 WITA

Tas Tertinggal, Identitas Terungkap: Fakta di Balik Pembunuhan di Lapak Semangka Kelapa Lima

Kupang, NTTzoom.com— Dini hari di Jalan Timor Raya, Kelurahan Kelapa Lima, Kota Kupang, biasanya hanya diisi suara ombak dan kendaraan yang sesekali melintas. Di tepi jalan itu, beberapa pedagang semangka memilih bermalam di lapak sederhana mereka, menunggu pagi datang untuk kembali berjualan.

‎Namun, sekitar pukul 04.00 WITA, Jumat (3/10/2025), kesunyian berubah menjadi kepanikan. Jeritan pecah dari lapak kecil di pinggir jalan. Dalam sekejap, suasana yang tenang berubah menjadi tragedi berdarah.

‎Di tempat itu, Selvina Pah (56), seorang ibu yang dikenal ramah, meregang nyawa akibat tikaman di dada. Sementara menantunya, Rion Dasi (44), harus dilarikan ke rumah sakit dalam kondisi kritis setelah ditusuk empat kali di dada dan leher.

‎Malam itu, Selvina tidur bersama putrinya Ika dan sang menantu di lapak jual semangka mereka. Ketiganya baru saja menutup hari dengan hasil jualan yang pas-pasan. Namun tanpa mereka sadari, seseorang sedang memperhatikan dari kejauhan — Bento, pria yang tengah mabuk setelah menenggak minuman keras bersama rekannya di sekitar Lasiana.

‎Dengan langkah goyah, Bento mendekati lapak. Ia melihat Ika tertidur di dekat sebuah tas kecil — tas yang berisi uang hasil jualan semangka. Niat jahat muncul seketika: mencuri tanpa diketahui.

‎Namun saat tangannya hampir menyentuh tas, Ika terbangun. Ia menjerit, membuat Rion spontan bangun dan mencoba menangkap pelaku. Keduanya terlibat baku hantam. Suasana semakin gaduh. 

‎Bento panik. Dari balik bajunya, ia mengeluarkan sebilah pisau dan menyerang Rion membabi buta. Tiga tikaman di dada kanan dan satu tikaman di leher kiri, membuat tubuh Rion tersungkur bersimbah darah.

‎Ketika Bento hendak kabur, Selvina menghadangnya. Rion pun berteriak, "mamaaa... awas ada pisau..!!". Sayang, tangan Bento lebih cepat mengayunkan pisau dari pada suara teriakan Rion. 

‎Niat baik sang ibu pun menjadi akhir hidupnya — satu tusukan di dada kiri membuatnya tergeletak tak bernyawa di tempat.

‎Bento lalu melarikan diri ke arah jalan raya yang dibalut kegelapan, menuju sepeda motornya yang terparkir tak jauh dari lokasi kejadian, meninggalkan dua tubuh yang berlumuran darah. 

‎Dalam kepanikan itu, tas milik Bento terjatuh dan tertinggal tak jauh dari lapak. Dari dalam tas itulah polisi menemukan sebuah handphone yang akhirnya menjadi petunjuk utama untuk mengungkap identitasnya.

‎Saat mentari mulai menampakan wajahnya, Tim Satreskrim Polresta Kupang Kota bersama Polsek Kota Lama melakukan olah TKP dan memasang garis polisi di sekitar lokasi kejadian.

‎"Motif awalnya pencurian. Karena dipergoki korban, pelaku panik lalu melakukan pembunuhan,” ungkap Kapolresta Kupang Kota, Kombes Pol Djoko Lestari.

‎Kini, Rion masih berjuang melawan luka di rumah sakit, sementara Ika menanggung kehilangan ganda — suami dan ibunya — di tempat yang selama ini menjadi sumber penghidupan keluarga mereka.

‎Lapak semangka itu kini sepi. Bekas darah di atas kerikil-kerikil kecil itu sudah dibersihkan, tapi bayang tragedi masih tersisa di mata para pedagang sekitar.

‎Satu niat mencuri, satu jeritan, dan satu tikaman — cukup untuk mengubah malam biasa menjadi kisah duka yang tak akan dilupakan warga Kelapa Lima. (es) 

Dapatkan sekarang

NTT Zoom, Ringan dan cepat
0 Disukai