KUPANG, NTTZOOM-Jumlah kasus baru dan orang terpapar Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) khusus bulan juli sangat tinggi. Dari rilis yang diterima, kasus baru mencapai 1.000 kasus per hari. Tokoh agama (Toga) diminta ikut berperan memutus penyebaran virus berbahaya ini.
Melihat ancaman virus yang sudah merenggut ratusan nyawa warga NTT itu, Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Hati Nurani Rakyat (HANURA) NTT, Refafi Gah buka suara.
Dikatakan Refafi, Covid-19 dan sejumlah variannya sedang mengintai masyarakat NTT, Indonesia dan dunia saat ini. Berbagai upaya pemerintah pusat dan daerah pun telah dilakukan mulai dari pemberian vaksin secara nasional hingga bantuan obat dan pelayanan kesehatan lainnya.
Selain program nasional tersebut ada pula pemberlakuan PPKM Mikro, PPKM Level IV dan juga PPKM darurat. Upaya tersebut dinilai belum efektif jika belum adanya kesadaran dari diri sendiri dan masyarakat luas.
Disebutkan, untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19 hanya bisa dengan kesedaran dari semua stakeholder dan mengimbau seluruh masyarakat untuk menaati prokes.
"Penerapan prokeslah yang bisa menyelamatkan kita dari serangan virus Covid-19. Namun kembali lagi kepada kesadaran untuk mematuhinya. Jadi diri kita sendiri yang bisa selamatkan kita sendiri," Ketua Fraksi Hanura DPDD NTT itu.
Menurut dia, meski pandemi ini telah melanda Indonesia lebih 2 tahun lebih, namun kesadaran masyarakat belum cukup. Masyarakat acuh terhadap penerapan prokes.
Ia menyarankan kepada kelompok-kelompom masyarakat, lembaga keagamaan yang ada di NTT agar lebih memperketat penerapan prokes di lingkungan sendiri agar bisa memutus mata rantai penyebaran dari satu orang ke orang lain.
"Misalnya, di jemaat tertentu salah satu umatnya terpapar, maka warga lain tidak boleh takut dan membiarkan dia sendirian, karena ini bukan aib tetapi harus diberikan suport, sehingga imun dan pikirannya bisa stabil serta tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dengan tetap mematuhi prokes," katanya.
Disebutkan, peran sesama dalam memberikan penguatan sangat dibutuhkan oleh pasien Covid-19 namun yang terjadi saat ini, saling menakutkan satu sama lain. "Kalau ada yang kena, bantu dia. Kalau tidak, dia keluar untuk cari nafkah maka virus ini akan terus menyebar. Jika dilakukan dengan tulus maka dapat memutuskan mata rantai dengan cepat," sebutbya.
Ia juga mengingatkan kepada pemerintah dalam melakukan PPKM Mikro, PPKM Level IV dengan tetap memperhatikan kebutuhan sehari-harinya. Karena masyarakat dalam posisi tertekan dan tidak ada makan maka masyarakat akan berontak kembali berativitas normal.
"Apapun itu kebijakannya, mesti mempertimbangkan segala aspek kehidupan masyarakat," ungkap Refafi.
Selain itu, pemerintah kota/kabupaten perlu mendukung kinerja aparat hingga level paling bawah seperti RT dan RW. Karena peran mereka bersentuhan langsung dengan masyarakat. "Kalau RT kan mereka tahu persis siapa warganya. Jadi begitu ada yang kena, langsung dibantu. Jangan ditinggal. Dan itu butuh biaya operasional," tandasnya.
Terhadap pelaksanaan vaksinasi, masyarakat diharapkan agar bisa mendatangi faskes-faskes terdekat dan melakukan scrining lalu memastikan kesehatanya sebelum divaksin.
"Kita harus taat untuk vaksin tapi yang punya penyakit bawaan harus dites secara baik," katanya.(zt/cd3/nz)
Dapatkan sekarang