MAUMERE, NTTZOOM-Nasib malang dialami pasangan suami istri, Emanuel Manda dan Novayanti Alfrida Piterson yang diduga disiksa oleh Satgas Covid dengan alasan menjalankan tugas. Nova selaku istri tak berdaya menyaksikan suaminya Eman disiksa oknum Polisi yang mengaku sebagai Satgas Covid. Eman dihujani pukulan bertubi-tubi, hingga pada bagian dahinya bocor terkena benda tumpul. Kejadian ini berlangsung di kediamannya sendiri saat hendak menutup kiosnya yang berada di jalan lingkkar luar Kelurahan Kota Baru, Kecamatan Alok Timur.
Hal ini disampaikkan Eman Jumat ( 9/7) di Maumere. Eman jelaskan, kebrutalan oknum polisi saat tiba di kiosanya itu, tanpa alasan yang rasional. Karena ketika itu sekira pukul 20.32 wita, Eman yang baru pulang dari rumah orangtuanya itu hendak menutup pintu kiosnya. Di saat sebagian pintu kiosnya belum tertutup, mobil Satgas tiba di depan kiosnya, dan langsung mebentak Eman, dengan kata kata kasar, “kau mau reman, kau bajingan,” bentak pimpinan Satgas yang diketahui Kasat Sabara Polres Sikka.
Menurut Eman saat rombongan patroli datang, kiosnya lagi sepih tanpa ada aktivitas transaksi atau jual beli apa lagi ketika itu Eman sedang menutup pintu kiosnya karena sudah pkl. 20.00 lewat. Di tengah bentakan dan interogasi tanpa substansi itu, kerak baju eman diremas hingga membuat Eman tidak dapat berbuat banyak. Di saat itu lah Eman dikeroyok, dan salah seorang memukul pada bagian dahinya hingga pecah. Akibatnya seluruh bagian wajah Eman berlumuran darah .
"Saya kaget saat saya menutup kios sebagiannya, tiba-tiba mobil satgas Covid datang dan langsung membentak saya dengan kata-kata kasar, bahwa saya ini preman lah, ditanya kenapa tidak pakai masker padahal masker saya baru buka dan saya simpan di gantungan. Tidak ada satu orangpun yang berada di kios itu untuk belanja, hanya saya dan istri saya sendiri. Saya dikeroyok dan dipukul bertubi-tubi walau saya minta ampun," jelas Eman.
Di saat wajah saya berlumuran darah saya ditolak ke arah mobil dipaksa untuk masuk mobil menuju ke Polres Sikka. Herannya bukan menuju ke Polres, tetapi mengkuti Satgas melakukan patroli, kurang lebih 40 menit. Eman juga mengaku di saat patroli itu Eman juga melihat langsung ada kios yang masih terbuka lebar, dan hanya diminta untuk tutup, bahkan masih ada yang sedang transaksi jual beli. Namun tidak dilakukan tindakan kekerasan seperti yang dialami dirinya.
"Setelah saya disiksa dan masih berlumuran darah, saya dimasukkan ke dalam mobil dan mengikuti mereka selama kurang lebih 40 menit. Saya juga menyaksikan ada sejumlah kios yang masih terbuka dan hanya diminta untuk tutup. Tidak mengambil tindak kekerasan atau bentakan oleh petugas Covid ini,” kesal Eman.
Hal senada disampaikan istrinya, Novayanti Alfrida Piterson. Dia katakan, saat suaminya disiksa, ia berusaha untuk memeluk suaminya, namun tiba-tiba Kasat Pol PP Sikka Adeodatus Buang Da Chunha langsung menolak dengan amat kasar sehingga bagian payudaranya mengalami kesakitan, sikap Buang itu disaksikan suaminya sendiri.
Walau demikian Nova juga tetap memohon agar suaminya tidak disiksa, sambil berteriak apa salah suaminya. Para petugas sama sekali tidak menggubris, dengan mata kepalanya ia menyaksikan, suaminya didorong dan dilemparkan ke dalam mobil. Dengan penuh histeris, Nova kemudian meminta bantuan sahabatnya untuk menghantarkannya ke Polres Sikka. Herannya, di Polres Sikka para petugas lagi - lagi tidak menggubris Eman yang wajahnya terus berlumuran darah.
Eman kemudian dibawah ke Rumah Sakit Umum dr. TC. Hiller Maumere untuk mendapoatkan perawatan medis. Oleh petugas medis luka yang dialami Emaan cukup dalam karena adanya benturan benda keras, sehingga harus dijahit sebanyak dua kali.
"Suami saya akhirnya dibawah ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis. Eman dijahit sebanyak dua kali, dan masih dalam perawatan hingga saat ini. Matanya selalu berkunang-kunag dan pusing, sehingga tidak dapat bekerja," jelas Nova.
Terpisah Komandan Provos Polres Sikka IPDA Fransiskus Somba Say berupaya untuk membangun komunikasi dengan korban agar bisa diselesaikan secara damai. Frans berharap dengan peran media komunikasi dengan pihak korban dapat berjalan dengan baik. Ketika ditanya media soal pelaku utamanya, Frans mengaku akan berkoordinasi dengan pihak Reskrim terlebih dahulu, karena kasus tersebut ditangani langsung oleh bagian Reskrim Polres Sikka. Frans bahkan berjanji Senin (12/7) pihak media akan dihubungi dan menyampaikan pelaku utamanya.
"Kita berharap dapat berkomunikaksi dengan baik sehingga bisa dilakukkan perdamaian, saya berharap dengan melalui media komunikasi perdamaian ini dapat berjalan dengan baik," jelas Frans.(rel/cd3/nz)
Dapatkan sekarang