Ngada, NTTzoom.com – Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kabupaten Ngada, Gerardus Reo, memastikan keluarga siswa SD berinisial YBR (9) tidak terdata sebagai warga Kabupaten Ngada, meski telah tinggal selama 11 tahun di wilayah itu. Fakta itu terungkap setelah tragedi meninggalnya YBR yang diduga dipicu kesulitan ekonomi, dilansir dari Kompas.com, Kamis (05/02/2026).
Gerardus menjelaskan, ibu korban masih tercatat sebagai warga Kabupaten Nagekeo meski telah menetap di Desa Naruwolo, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada.
Akibatnya, keluarga tersebut luput dari sistem pendataan pemerintah.
“Ibu korban masih ber-KTP Nagekeo, meski sudah 11 tahun tinggal di Desa Naruwolo.” ujar Gerardus saat meninjau rumah korban.
Sementara itu, Gubernur NTT, Meski Laka Lena, saat dikonfirmasi, Rabu (04/02), menjelaskan perpindahan domisili keluarga korban dari Nagekeo ke Jerebuu, Ngada, belum diikuti dengan pembaruan data adminduk.
Menurutnya, masalah sepele inilah yang berdampak fatal dan membuat keluarga korban tak sekali pun tersentuh bantuan sosial.
Ia menyebut kondisi tersebut sebagai kegagalan sistem pengaman sosial yang harus segera dibenahi.
"Ini kegagalan sistem yang ada di pemerintah provinsi, Kabupaten Ngada, sampai tingkat bawah, kegagalan kita semua. Apapun kisahnya, ini adalah tamparan keras bagi kemanusiaan kita, tamparan keras bagi semua yang sudah kita kerjakan." ujarnya.
Gubernur pun menginstruksikan seluruh kepala daerah, camat, lurah, kepala desa, RT/RW, hingga tokoh agama, adat, pemuda, dan perempuan untuk aktif mencari warga miskin yang belum terdata dan segera membereskan administrasinya.
“Siapa pun yang miskin wajib masuk data. Jangan sampai lagi ada orang susah tidak dapat bantuan hanya karena persoalan adminduk,” katanya.
Selain memperkuat sistem jaring pengaman sosial, Melki juga mendorong pembentukan mekanisme respons cepat, termasuk kemungkinan dana sosial darurat agar bantuan bisa langsung dieksekusi tanpa birokrasi panjang saat kejadian serupa muncul.
Ia berharap tragedi ini menjadi yang terakhir dan pemerintah mampu mendeteksi persoalan sosial sejak dini agar tidak ada lagi anak-anak NTT yang menjadi korban akibat kemiskinan dan kelalaian sistem.
Sebelumnya diberitakan, YBR diduga mengakhiri hidupnya karena keterbatasan ekonomi dan tidak memiliki perlengkapan sekolah seperti buku dan pena.
YBR ditemukan meninggal dunia di pondok bambu tempat tinggalnya di Desa Naruwolo, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, Kamis (29/01/2026) sekitar pukul 12.30 WITA. (es)
Dapatkan sekarang