KUPANG, NTTZOOM-Stunting menjadi salah satu program prioritas pemerintah karena dampaknya yang berkepanjangan sehingga diperlukan intervensi berkelanjutan dalam pencegahan dan penurunan angka stunting di Indonesia khususnya di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Perlu disadari, dalam menyelesaikan isu stunting dibutuhkan kerja sama dari berbagai sektor pembangunan.
Hal ini seperti dilakukan Pengurus RT041 Liliba, Kelurahan Liliba, Kecamatan Oebobo, NTT bersama para kader Posyandu Melati 08 Liliba. Dimana, kerja sama antara Pengurus RT041 Liliba dan para kader Posyandu dalam menangani stunting terus dilakukan.
Dalam upaya penanganan stunting di Posyandu Melati 8 itu terus berlanjut. Alhasil dalam penanganan gizi buruk atau stunting pada anak di Posyandu Melati 8 sudah memulai ada perubahan dari sisi pertumbuhan pada anak stunting.
Koordinator Posyandu Melati 8, Parentina mengatakan Posyandu Melati 8 terus melakukan pemberian makanan tambahan (PMT) bagi anak yang mengalami stunting.
Dia jelaskan, perkembangan yang dialami anak stunting mulai nampak dari perubahan berat badan (BB), tinggi badan (TB), lingkar lengan (LL).
Dirincikan, sebanyak 17 anak yang mengalami gizi buruk atau stunting sehingga terus mendapat pemberian makanan tambahan atau PMT.
Dari 17 anak stunting itu, terdapat empat anak dari RT041 yang mengalami stunting dan sudah mulai ada perkembangan. Sedangkan tersisa dari empat orang tersebut, yakni dari RT20 dan RT43. Posyandu Melati 8 mencakup tiga RT, yakni RT041, RT20 dan RT43.
"Totalnya ada 17 anak dan Posyandu Melati 8 mencakup tiga RT itu. Dan kami hanya mengelola saja. Kami sekadar menyampaikan apa yang kami butuh untuk bapak anak stunting, selanjutnya bapak RT yang memberikan," sebutnya, Selasa (23/5).
Secara umum, kata Parentina, PMT yang dilakukan Posyandu Melati 8, yakni sebulan sekali dari Dinas Kesehatan (Dinkes). Sedangkan dari pengurus RT041 Liliba sendiri terus melakukan PMT dalam satu minggu sebanyak tiga kali yang diinisiasi Ketua RT041, Aipda Finsensius Loye.
"Sudah mulai ada perkembangan pada anak, mulai dari BB, TB dan LL. Kalau dari dinas sendiri PMT itu satu bulan satu kali. Tapi kalau dari kami sendiri 1 minggu tiga kali. Itu hasil inisiatif dari Ketua RT041 Liliba, Bapak Finsensius Loye. Bantuan itu secara pribadi dari bapak Finsen," katanya.
Menurut Parentina, selaku Ketua RT041 Liliba, Aipda Finsensius Loye yang juga salah satu Anggota Polisi di Polda NTT itu memiliki andil yang besar dalam membantu pemerintah untuk penanganan stunting di Kelurahan Liliba.
"Semua itu, hasil inisiatif dari Pak Finsensius Loye. Beliau menggalang berbagai barang, seperti beras dan telur serta berbagai makanan yang bergizi untuk anak-anak di sini," beber Parentina.
Dikatakan, Posyandu Melati hanya membantu dalam menangani stunting, tetapi terkait bantuan yang diberikan untuk PMT terhadap anak-anak stunting sudah dilakukan pengurus RT041.
Disampaikan, pada 3 Juni mendatang, Posyandu Melati kembali melakukan PMT untuk anak-anak stunting di Kelurahan Liliba, khususnya RT041, RT20 dan RT43.
"Tanggal 3 kami lakukan PMT lagi. Dan itu setiap bulan," katanya.
Sementara ini, pihak Poltekkes Kupang dari kesehatan gizi sedang membantu anak-anak yang mengalami stunting di wilayah Liliba lewat posyandu Melati 8. "Sementara ini kami sedang masak untuk PMT karena ini ada bantuan dari Poltekkes Kupang yakni kesehatan gizi" ungkapnya.
Sementara Ketua RT041 Liliba, Aipda Finsensius Loye yang juga Anggota Polisi di Polda NTT itu membenarkan dirinya berinisiatif untuk membantu memberikan berbagai jenis barang seperti beras, telur ayam dan susu sebagai PMT bagi anak-anak yang mengalami stunting di Kelurahan Liliba.
"Iya, benar sekali. Ini hasil inisiatif saya sebagai Ketua RT 041 dalam menangani stunting. Saya meminta bantuan dari teman, kerabat saya yang dimana mereka menyambut baik itu untuk membantu," sebutnya.
Dia katakan, sebagai Ketua RT041, pihaknya terus berkolaborasi dengan semua dari berbagai pihak guna mendukung pemerintah untuk menekan angka prevalensi terhadap stunting. Menurutnya, jika stunting dikerjakan secara kolaborasi maka ke depan SDM di Provinsi NTT akan menjadi jauh lebih baik.
"Stunting ini program pemerintah yang harusnya kita menyambut baik itu untuk membantu sehingga dapat mengubah SDM kita di NTT," bebernya.
Disebutkan, bantuan yang diberikan berupa telur ayam, kacang hijau, beras dan gula lempeng. Bantuan itu hasil kolaborasi antara pengurus RT041 bersama masyarakat dan pemerintah yang peduli dengan stunting.
"Jadi saya bantu secara pribadi, saya juga sampaikan ke masyarakat untuk saling membantu kita punya warga yang anaknya mengalami stunting. Ada juga rekan-rekan saya yang membantu dari luar," tatanya.
Dia tegaskan, Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo menginstruksikan bahwa pembangunan SDM, termasuk anak merupakan fokus pembangunan pada 2024. Oleh karena itu, menjadi kewajiban seluruh pihak untuk memperhatikan tumbuh kembang anak, mulai sejak dalam kandungan, bayi, sampai mereka memasuki masa emas.
"Di mana-mana Pak Presiden Jokowi selalu memberikan instruksi dalam memerangi stunting. Dan ini perlu kita lakukan," ungkapnya.(jem/cd3/nz)
Dapatkan sekarang