Kupang, Nttzoom - Sejumlah wilayah di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) berpotensi mengalami kemarau panjang atau La Nina.
Sejumlah wilayah tersebut, dipetakan berdasarkan wilayah-wilayah terbesar di Provinsi NTT yakni daratan Timor, Sumba dan Flores.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD NTT, Cornelis Wadu mengungkapkan, usai melakukan pertemuan bersama Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) NTT, pihaknya telah melakukan pemetaan di sejumlah wilayah NTT yang diduga berdampak kemarau panjang atau La Nina.
Wadu menyebut, di daratan Timor, rata-rata berpotensi rawan kekeringan, terutama dari Kabupaten Kupang, sebagian dari Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Kabupaten Belu, dan Kabupaten Malaka.
“Kalau untuk daratan Timor ini rata-rata berpotensi rawan kekeringan terutama dari Kabupaten Kupang, TTS sebagian, TTU, Belu dan Malaka itu yang kita genjot untuk teman-teman BPBD kabupaten/kota untuk siap siaga dalam rangka mengantisipasi kemarau panjang,” ujar Kalaksa BPBD Provinsi NTT, Cornelis Wadu, Kamis (30/5/2024).
Sementara untuk daratan Sumba, kata Cornelis, wilayah yang rawan kekeringan adalah Kabupaten Sumba Timur, Kabupaten Sumba Barat, dan Kabupaten Sumba Tengah.
Sedangkan untuk daratan Flores itu, berada di Kabupaten Ende dan Kabupaten Sikka dan, Kabupaten Lembata serta Kabupaten Flores Timur, tidak mencolok seperti di Ende dan Sikka.
“Untuk Ngada kurang, namun Nagekeo yang berpotensi kekeringan. Sementara untuk Manggarai dan Manggarai induk tidak terlalu signifikan dampaknya ketimbang kita di daratan Timor," bebernya.
Diungkapkan, lanjut Wadu, selain pemetaan, BPBD Provinsi NTT bersama dengan BPBD Kabupaten/Kota seluruh NTT, akan menggelar rapat untuk melakukan langkah mitigasi dengan informasi dari BMKG, tentang kemarau panjang yang berdampak di Bali-Nusra.
“Untuk antisipasi jangka pendek koordinasi dengan teman-teman dinas teknis untuk memanfaatkan sumber air yang ada agar menjadi sumber air dalam pengembangan sumber pertanian di musim kemarau ini di daerah masing-masing,” katanya.
Mantan Kasat Pol PP NTT ini menambahkan, walaupun saat ini potensi La Nina akan berkepanjangan sesuai prediksi BMKG, maka BPBD kabupaten/kota di NTT, telah diinstruksikan untuk mengoptimalkan sumber air di daerah masing-masing.
“Kalau untuk ketersediaan air di kabupaten/kota itu sudah diupayakan untuk akses sumber air yang lokasinya rawan kekeringan, tapi sampai saat ini belum ada informasi yang menyatakan bahwa ada masyarakat yang membutuhkan air ditengah kondisi cuaca yang menuju kekeringan ini,” ucapnya.
Wadu katakan, terkait kemarau panjang yang akan terjadi nantinya, pihak BPBD NTT sudah lakukan persiapan antisipasi dan mitigasi.
“Kami telah mempersiapkan langkah-langkah mitigasi untuk menghadapi ancaman kemarau ekstrem,” katanya.
Ia menyebut, dari hasil pertemuan BPBD dan BMKG terkait prakiraan cuaca, untuk wilayah kekeringan ini, pihak BPBD kabupaten/kota di NTT sudah diinformasikan berdasarkan iklim di NTT yang mengalami kemarau panjang yakni delapan sampai sembilan bulan.
"Itu mengalami kekeringan dan 3-4 bulan itu basah. Dengan adanya pergerakan cuaca dari El Nino ke La Nina ini, yang menyebabkan kekeringan ini bisa terjadi di awal bulan," tambahnya.
Wadu juga menghimbau kepada masyarakat, untuk tetap menginfokan kepada BPBD di wilayah masing-masing bila terjadi kekeringan di sektor pertanian. Bila terjadi kekeringan, masyarakat segera laporkan ke BPBD. (dev/jem/nz*)
Dapatkan sekarang