Dekranasda NTT Perkenalkan Warlaba Berbasis Kelor Pertama di Indonesia 
Salah satu booth yang menjual Hay Drink dengan bahan dasar kelor bertempat di samping Gereja Ebenhezer Oeba, Kota Kupang (jemsi pallo)
Carlens
24 Sep 2021 16:05 WITA

Dekranasda NTT Perkenalkan Warlaba Berbasis Kelor Pertama di Indonesia 

KUPANG, NTTZOOM-Dewan Kerajinan Nasional Daerah Provinsi NTT berkolaborasi dengan Dapur Kelor Indonesia meluncurkan sebuah brand bernama Haydrink, Jumat (24/9). Satu franchise atau warlaba berbasis kelor pertama di Indonesia bahkan di Asia Tenggara dengan mengusung konsep minuman kelor dengan berbagai cita rasa yang sangat cocok dengan kalangan milenial saat ini. 

Peluncuran Haydrink ini telah melalui beberapa proses sejak awal inisiasi hingga saat ini, dimana tim Dekranasda NTT dan Dapur Kelor Indonesia bersama-sama melakukan penjaringan peserta, pelatihan berkolaborasi dengan Bank BRI, Grab dan pelatihan untuk meracik minuman Haydrink.

Peserta yang mengikuti program Haydrink ini adalah kaum milenial di Kota Kupang. Pada launching perdana itu terdapat hampir 20 boot yang langsung beroperasi. 

Untuk mengikuti progam ini, peserta hanya perlu melampirkan KTP, foto lokasi penjualan beserta beberapa persyaratan untuk pembukaan tabungan di Bank BRI serta pembayaran dengan menggunakan aplikasi pembayaran non tunai.  

Program ini juga berkolaborasi dengan Jasa Transportasi Online Grab yang memiliki fitur GrabFood sehingga dapat memudahkan dalam melakukan pemesanan produk dari mana saja. 

Tujuan dari program Haydrink ini adalah untuk dapat menciptakan lapangan pekerjaan dan meningkatkan kecakapan kaum milenial dalam berwirausaha. 

Selain untuk membuka lapangan pekerjaan dan meningkatkan kecakapan kaum milenial dalam berusaha, tujuan program ini juga adalah pengembangan Kelor NTT yang menurut penelitian merupaka kelor terbaik nomor 2 di dunia setelah kelor dari Kepulauan Canary di Spanyol. 

Kelor yang merupakan makanan super atau super food memiliki kandungan gizi dan vitamin yang sangat bagus untuk tubuh terutama di saat pandemi seperti sekarang. Dimana tubuh membutuhkan asupan nutrisi yang cukup sehingga dapat meningkatkan daya tahan tubuh terhadap radikal bebas dan penyakit. 

Booth Haydrink tersebar di beberapa titik dalam wilayah Kota Kupang dan tidak menutup kemugkinan akan dikembangkan di daerah lain di NTT. 

Untuk saat ini Haydrink di Kota Kupang akan dijadikan sebagai pilot project untuk selanjutnya dapat dikembangkan di seluruh wilayah NTT mengingat NTT memiliki potensi kelor yang berlimpah serta sudah ada beberapa daerah yang menyatakan berminat untuk mengembangkan program serupa, seperti di wilayah Belu dan Malaka. 

Julie Sutrisno Laiskodat, Ketua Dekranasda Provinsi NTT mengatakan, sebagai mitra Pemerintah Provinsi NTT, Dekranasda Provinsi NTT mendukung penuh program Gubernur NTT untuk mengembangkan Kelor NTT sebagai salah satu komoditi unggulan dari NTT demi mewujudkan NTT bangkit, NTT sejahtera. 

NTT dengan 3.026 desa memiliki potensi yang luar biasa dan akan memberikan dampak luar biasa bagi masyarakat jika dikembangkan dengan baik 

Dua milenial sebagai pemilik salah satu booth, Ivan Mboik dan Jek Mboik kepada NTTZOOM.COM menjelaskan, Hay Drink yang mereka jual memiliki beragam rasa. Mulai dari moringa moccacino, miringa ginger, moringa taro, moringa retvelvet, moringa tiramisu, moringa sweet oreo, moringa hazelnut, moringa strawberry, moringa cappucino dan moringa sweet ori. 

"Jadi minuman ini berbagai macam-macam rasa tetapi bahan dasarnya itu dari kelor semuanya ini premium dan dijual dengan harga Rp18 ribu per cup," jelas Ivan 

Selanjutnya Ivan juga menjelaskan, minuman khas daun kelor itu kaya akan gizi yang disebut-sebut menjadi tren baru bagi milenial untuk dikonsumsi 

"Khas dari minuman kelor ini rasanya kelor tapi enak," ceritanya. 

Staf Dekranasda NTT, Stif Parera mengatakan, lewat kegiatan itu kaum melenial dituntut untuk lebih memahami konsep perkembangan digital, dimana pada masa pandemi Covid-19 ini ada kaum melenial yang sulit mencari pekerjaan. sehingga kegiatan ini bisa dapat berinovasi dan  juga berlaku bagi para pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di NTT. 
 
"Di Kupang ini ada yang kehilangan pekerjaan, ada yang sudah wisuda tapi belum tahu pekerjaannya apa. Jadi kita berusaha supaya anak-anak ini jiwa entrepreneurnya ada dan sambil kita membuka lapangan pekerjaan," beber Stif Parera.
 
Dia mengakui, butuh perjuangan bagi para pelaku usaha budi daya kelor untuk bisa memperkenalkan daun kelor kepada banyak orang yang bergerak di pengembangan daun kelor di NTT.  

"Tidak menutup kemungkinan katong (kita) di NTT juga akan diadakan pabrik projek juga, dan tidak menutup kemungkinan buat di daerah lain," jelas Stif.  

Butuh banyak gerakan inovatif  yang mampu memperkenalkan kelor ke seluruh pelosok NTT bahkan ke seluruh dunia, agar lebih banyak orang yang tahu manfaat gizi dari daun kelor, terutama kaum milenial. Stif menambahkan, lebih baik mengonsumsi olahan kelor di tengah ancaman Covid-19 ini untuk menambah daya tahan tubuh.  

"Daun kelor baik untuk kesehatan apalagi untuk tubuh yang penat, sakit, ngilu. Minuman dari kelor sangat bagus," terangnya.  

Staf khusus Dekranasda NTT itu juga katakan, minuman kelor terdiri dari berbagai macam pilihan rasa yang banyak karena kaum melenial di masa kini, suka bermacam rasa bukan hanya kelor saja.  

"Kita sesuaikan dengan cita rasa kaum melenial, karena sekarang ini mereka maunya macam-macam juga kan," tutup Stif.(jem/cd3/nz)

Dapatkan sekarang

NTT Zoom, Ringan dan cepat
0 Disukai