Kupang, Nttzoom - Ketua Dewan Pembina DPW Partai Solidaritas Indonesia Nusa Tenggara Timur (PSI NTT), Jane Natalia Suryanto hengkang dari PSI, bakal mengganggu animo publik di Pilgub NTT 2024.
Jane mundur setelah Ketua Umum (Ketum) PSI , Kaesang Pangarep yang juga anak dari Presiden RI Joko Widodo, itu menyerahkan Surat Keputusan (SK) dukungan untuk Melki Laka Lena (MLL) dan Johny Asadoma (JA) di Pemilihan Gubenur (Pilgub) NTT 2024.
Pengamat Politik Universitas Muhammadiyah Kupang, Dr. Ahmad Atang menilai bahwa dengan mundurnya Jane Natalia Suryanto dari PSI, bakal diprediksi akan laris manis menjadi rebutan partai-partai politik lainnya.
Sebab, sosok Jane Natalia Suryanto dinilai mampu menggerakkan mesin partai untuk mendulang suara. Apalagi berkaitan dengan Pilgub NTT.
Ahmad menyebut, sebelum menyatakan sikap untuk mundur dari PSI, Jane Natalia Suryanto dengan siap menjadi calon wakil Gubernur NTT di Pilkada 2024 ini.
Jika dilihat pada saat Pileg, beber dia, salah satu kader dari PSI yang meraih suara terbanyak yakni Jane Natalia Suryanto dengan jumlah 18.631 suara. Jane meraih suara, itu dari Dapil NTT II yang meliputi Pulau Timor, Rote, Sabu Raijua dan Sumba.
“PSI memilih figur lain untuk didukung yang bukan kader PSI. Maka mundurnya Ibu Jane setidaknya memberi dampak terhadap animo publik, khususnya konstituen yang selama ini diurus olehnya. Pasti akan mengganggu dinamika politik di Pilgub NTT namun tidak terlalu signifikan," ujar Pengamat Politik Universitas Muhammadiyah Kupang, Dr. Ahmad Atang kepada Nttzoom.com Jumat, 16 Agustus 2024.
Dia menjelaskan, Jane merupakan tokoh politik yang namanya mencuat di kalangan elit politik, dan kalangan akar rumput (masyarakat). Terlebih, Jane adalah salah kader yang punya jasa dalam membesarkan PSI di NTT.
Tak heran, Ahmad berujar, akar rumput di daerah-daerah bisa dengan mudah di gaet Jane.
“Ibu Jane merupakan kader PSI paling siap menjadi calon wakil gubernur NTT, hanya saja mekanisme partai tidak bisa dilawan dengan keinginan pribadi. Oleh karena itu, sebagai kader partai mestinya harus tunduk pada mekanisme dalam rekruitmen dan distribusi kader dalam perebutan kekuasaan," timpal Ahmad.
Namun demikian, lanjut Ahmad, mundurnya Jane dari kader PSI, itu merupakan hak pribadi bagi seorang kader partai. Namun, sebagai seorang politisi, keputusan yang diambil oleh Jane sepertinya tidak elok.
Bagi Ahmad, tujuan dari seseorang yang bergabung dalam politik, adalah untuk merebut kursi kekuasaan. Namun, kekuasaan tidak bisa dibagi secara utuh dikarenakan sangat terbatas.
“Sebagai politisi tentu ada ekpektasi yang belum terakomodir, karena tujuan seseorang berpartai adalah untuk merebut kekuasaan, namun kekuasaan tidak bisa terbagi habis karena sangat terbatas. Sungguhpun begitu, sebagai kader partai pantas juga dia rasa kecewa karena ikutkan dalam pilkada," ungkapnya.
Terkait bergabung di partai politik lain, Ahmad mengatakan bahwa kelanjutan karir politik Jane sangat tergantung pada partai politik lainnya yang siap menerima untuk berlabuh. (jem/dev/nz)
Dapatkan sekarang