‎Indonesia Mulai Mengejar 100 GWp
‎Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto (tengah) secara simbolis melakukan penekanan tombol dalam Launching & Groundbreaking Program PLTS 100 GWp di Gilimanuk, Bali pada Selasa (25/8). 
Redaksi
09 Sep 2026 18:37 WITA

‎Indonesia Mulai Mengejar 100 GWp

Jakarta, NTTzoom.com — Program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 gigawatt peak (GWp) menjadi salah satu langkah strategis Pemerintah dalam mempercepat pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) sekaligus mendorong terwujudnya swasembada energi nasional.

‎PT PLN (Persero) menyatakan siap mendukung akselerasi program tersebut melalui penguatan sistem kelistrikan, pembangunan infrastruktur pendukung, serta integrasi pembangkit energi surya ke dalam sistem kelistrikan nasional.

‎Program PLTS 100 GWp tersebut sebelumnya resmi diluncurkan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto di Gilimanuk, Bali, pada 25 Agustus 2026. Pada tahap awal, program mencakup 14 proyek PLTS dengan total kapasitas 5.300 megawatt peak (MWp) yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

‎Peluncuran tersebut menjadi bagian dari langkah Pemerintah dalam mengimplementasikan Asta Cita, khususnya agenda swasembada energi dan hilirisasi melalui pemanfaatan sumber energi domestik.

‎Presiden Prabowo Subianto menegaskan pengembangan energi surya merupakan langkah strategis untuk mempercepat kemandirian dan swasembada energi Indonesia. Pemanfaatan potensi energi terbarukan, menurutnya, perlu dilakukan secara masif agar kebutuhan energi nasional semakin banyak dipenuhi dari sumber energi dalam negeri.

‎Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan Program PLTS 100 GWp dikembangkan melalui berbagai skenario, mulai dari PLTS skala besar, PLTS terapung, PLTS atap, hingga pemanfaatan PLTS untuk kawasan industri dan kegiatan produktif.

‎Program tersebut mencakup delapan skenario utama dengan total kapasitas 100 GWp, yakni eliminasi PLTU sebesar 12,48 GWp, PLTS skala besar melalui Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) sebesar 30,97 GWp, PLTS terapung 10,72 GWp, PLTS atap 9,35 GWp, PLTS 3T sebesar 0,50 GWp, PLTS off-grid untuk kegiatan produktif 4,36 GWp, PLTS nonatap untuk kawasan industri 7,49 GWp, serta demand creation melalui hilirisasi, kendaraan listrik, kompor induksi, dan kebutuhan lainnya sebesar 24,13 GWp.

‎Menurut Bahlil, implementasi program tersebut berpotensi menurunkan emisi hingga 140 juta ton CO2 per tahun dengan nilai ekonomi karbon mencapai sekitar Rp6,31 triliun.

‎Selain memberikan dampak terhadap ketahanan energi dan lingkungan, pengembangan PLTS skala besar juga diproyeksikan membuka peluang ekonomi baru. Program ini diperkirakan berpotensi menciptakan sekitar 5,5 juta lapangan kerja, terdiri atas sekitar 3,465 juta tenaga kerja konstruksi dan 2,053 juta tenaga kerja manufaktur.

‎Dari sisi investasi, total kebutuhan pendanaan program diperkirakan mencapai sekitar 71,3 miliar dolar AS atau setara Rp1.140 triliun. Pemerintah juga memperkirakan program tersebut dapat mendorong efisiensi subsidi hingga Rp73,9 triliun per tahun.

‎Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menegaskan PLN siap mendukung penuh penugasan Pemerintah dalam mempercepat pengembangan PLTS 100 GWp.

‎“PLN siap melaksanakan penugasan Bapak Presiden untuk mempercepat pengembangan PLTS 100 GWp. Sebagai bagian dari ekosistem kelistrikan nasional, PLN akan all out agar pengembangan energi surya dapat terintegrasi dengan sistem kelistrikan secara andal, aman, dan berkelanjutan,” ujar Darmawan.

‎Darmawan mengatakan keberhasilan program tersebut membutuhkan kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah, PLN, pelaku usaha, industri hingga masyarakat. Menurutnya, pengembangan energi surya tidak hanya berkaitan dengan penambahan kapasitas pembangkit, tetapi juga membangun ekosistem energi bersih dan memperkuat industri nasional.

‎Khusus di Bali, sebagai lokasi peluncuran Program PLTS 100 GWp, PLN bersama Pemerintah Provinsi Bali akan mengembangkan lima klaster PLTS dengan total kapasitas 1.000 MWp yang didukung Battery Energy Storage System (BESS) sebesar 3.300 MWh.

‎Dari total tersebut, Klaster Gilimanuk akan dikembangkan dengan kapasitas PLTS mencapai 300 MWp.

‎“Dalam kolaborasi ini, kapasitas PLTS yang akan dikembangkan di wilayah Bali mencapai 1.000 MWp, di mana PLTS dengan total kapasitas 300 MWp akan dikembangkan di Klaster Gilimanuk,” kata Darmawan.

‎Menurut Darmawan, pengembangan PLTS 100 GWp ke depan tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan kapasitas energi terbarukan, tetapi juga menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi dan pemerataan pembangunan di berbagai wilayah Indonesia.

‎“Transformasi energi bukan hanya tentang mengganti sumber energi menjadi lebih bersih. Lebih dari itu, listrik merupakan fondasi untuk mempercepat pemerataan pembangunan, menggerakkan roda perekonomian, menciptakan lapangan kerja, serta membantu mengentaskan kemiskinan. PLN siap menjadi bagian dari perjalanan Indonesia menuju kemandirian dan swasembada energi,” pungkas Darmawan. (nz) 

Dapatkan sekarang

NTT Zoom, Ringan dan cepat
0 Disukai