DALAM sejarah berdirinya Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), baru kali ini Provinsi yang dinahkodai oleh Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) dan Josef Nai Soi (JNS) memiliki budidaya kerapu dengan sistem Keramba Jaring Apung (KJA).
Tidak sedikit masyarakat yang pesimis akan ide dari orang nomor satu di NTT ini. Menurut mereka, NTT belum bisa mengerjakan hal yang sebesar ini, karena keterbatasan Sumber Daya Manusia. Mereka lebih memilih agar sang nahkoda mengerjakan hal - hal biasa seperti yang sudah dirintis para pendahulu.
"Jangan bermimpi terlalu besar buat NTT, karena provinsi ini sangat miskin dan tidak cukup uang untuk mengerjakan hal ini," tulis seorang pengguna medsos ketika ide sang gubernur mulai dipublish ke khalayak.
Tetapi orang nomor satu di NTT ini tetap dengan ide dan gagasannya untuk tetap maju dan memaksimalkan potensi Sumber Daya Alam yang dimiliki NTT.
Tahun 2020 pekerjaan inipun dimulai. Benih ikan mulai ditabur di beberapa lokasi. Tidak sedikit kelompok "pesimis" yang terus memantau perkembangan dari pekerjaan ini.
Hari berganti, Minggu berganti, bulanpun terus berjalan seolah ingin melihat hasil dari ide dan kerja mulia ini.
Tetapi mimpi ini terusik oleh bisingnya "Badai Seroja" yang datang di saat semua masyarakat sedang lelap tertidur. Sang tamu tak diundang ini membawa pergi semua yang dilewatinya, "benih - benih emas di samudra biru pun" ikut dibawa terbang.
Hal ini membuat para "kelompok pesimis" seakan menang dengan berbagai argumen yang dibuat.
Tetapi sang gubernur selaku nahkoda kapal "FLOBAMORATA" ini tetap dengan pendiriannya bahwa NTT pasti bisa.
"Kenapa orang lain bisa, kita tidak? Toh kita sama - sama diberi ilmu pengetahuan oleh Sang Pencipta," demikian yang disampaikan gubernur di sebuah kesempatan.
Dengan gayanya yang khas, Gubernur Viktor "mencambuk" seluruh pasukan yang berada di Dinas Kelautan dan Perikanan untuk terus bekerja secara serius, bekerja dengan penuh keberanian, bekerja dengan hati dan bekerja kolaboratif agar mimpi besar ini boleh terwujud.
"Sebagai Gubernur saya mau semua staf turun ke laut, sisakan beberapa orang saja di kantor untuk mengurus administrasi. Yang merasa diri tidak sanggup segera buatkan surat pengunduran diri," tegas gubernur saat berkunjung ke dinas tersebut.
Seolah ingin mencari emas di ujung cambuk itu, seluruh staf di bawah komando sang Plt. Kepala Dinas, mulai membangun asa mengejar mimpi untuk NTT Bangkit, NTT Sejahtera. Waktu, tenaga dan juga pikiran dikerahkan untuk mengambil kembali mimpi yang telah dibawa pergi oleh dahsyatnya alam.
22 Oktober 2021, menjadi hari yang cukup bersejarah bagi provinsi yang kita pijak saat ini. Siang itu sebuah kapal datang untuk menjemput "emas" yang dihasilkan dari buah pemikiran dan buah kerja tangan dari anak - anak Nusa Tenggara Timur.
Ya, kerapu seberat 1,5 ton berhasil dipanen dan dibawa pergi ke Hongkong. Kehormatan Indonesia, Kehormatan Nusa Tenggara Timur diakui.
Seakan sudah bersahabat dengan alam Nusa Tenggara Timur, benih - benih kerapu ini kembali bertumbuh untuk menjaga kehormatan masyarakat NTT.
Tepatnya tanggal 16 November 2021, sebuah kapal dengan kapasitas yang besar kembali berlabuh di perairan Semau Kabupaten Kupang, untuk kembali mengangkut 1,4 ton kerapu dan dibawa ke negara yang sama.
Sekali lagi, kehormatan ini bukan untuk sang pemilik ide, bukan juga untuk tangan - tangan yang dengan penuh jerih lelah mengerjakannya, tetapi kehormatan ini untuk Indonesia, kehormatan ini untuk seluruh masyarakat Nusa Tenggara Timur.
Mari kita hilangkan stigma buruk tentang Provinsi yang kita cintai ini. NTT pasti bisa, asalkan dikerjakan dengan penuh kecerdasan, dikerjakan dengan penuh keberanian, dikerjakan dengan hati, pasti akan berhasil.
Jauhkan mental "tidak bisa," karena kita manusia yang diciptakan sama, asalkan kita mau berusaha.
Salam NTT Bangkit
Salam NTT Sejahtera.(*/sam/jem/cd3/nz)
Dapatkan sekarang