MATARAM, NTT ZOOM.COM - Masyarakat Gendang Gonggor, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang berada di sekitar kawasan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Ulumbu, telah menjadi saksi hidup bagaimana pembangunan geothermal dapat hidup berdampingan dan memberikan manfaat nyata terhadap keberlangsungan hidup masyarakat adat.
Tua Gendang Gonggor, Mikael Karus, menilai sosialisasi terkait geothermal, pemenuhan kebutuhan warga, serta perhatian PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Nusa Tenggara (UIP Nusra) terhadap rumah adat menjadi kunci penting pembangunan PLTP Ulumbu dapat berjalan lancar dan menjadk bagian dalam kehidupan adat masyarakat Gendang Gonggor.
Masyarakat, ucap Karus, telah mengikuti proses sosialisasi terkait pengembangan panas bumi sejak 2023. Sosialisasi tersebut dilakukan secara bertahap, mulai dari pembahasan mengenai persetujuan atas dasar informasi di awal tanpa paksaan (Free, Prior and Informed Consent/FPIC) terkait kondisi lokasi wellpad, pembebasan lahan, hingga rencana pembangunan akses jalan pada 2026.
"Sejak awal, kami tidak pernah membantah atau menolak. Sampai akhirnya lahan kami dikelola oleh PLN. Kami sebagai tuan rumah menerima PLN dan berterima kasih atas kehadirannya. Menurut kami, PLN dan pemilik rumah gendang harus bersatu demi kelancaran kegiatan," ujar Karus.
Dalam tahapan sosialisasi, PLN, lanjut Karus, menerima setiap usulan dan harapan dari masyarakat adat sehubungan dengan pengembangan PLTP Ulumbu. Karus mengambil contoh jalan akses yang langsung dibangun oleh PLN sehingga kini bisa menyokong kehidupan sehari-hari masyarakat adat.
Di sisi lain, Karus juga menilai proses sosialisasi memberikan ruang bagi masyarakat untuk memahami manfaat dan risiko pembangunan, termasuk upaya meminimalkan dampak yang mungkin timbul.
Selain komunikasi mengenai proyek, perhatian terhadap keberadaan rumah adat menjadi hal yang berkesan bagi masyarakat Gendang Gonggor.
Karus mengungkapkan, sebelum mendapatkan bantuan perbaikan dari PLN, kondisi rumah gendang membuat mereka merasa kehilangan sebagian identitas adat. Kini, setelah diperbaiki, rumah tersebut kembali dapat digunakan untuk berbagai pertemuan masyarakat.
"Sebelumnya, warna rumah gendang sudah tidak ada. Setelah bantuan ini datang, kami baru menyadari bahwa kami memiliki rumah gendang yang begitu modern. Sekarang rumah adat kami sudah bisa dimanfaatkan untuk pertemuan-pertemuan," ungkap Karus.
Ia menjelaskan, kebutuhan akan rumah adat yang lebih luas sebelumnya juga disampaikan kepada PLN karena masyarakat kerap menggunakan rumah gendang untuk kegiatan sosialisasi dan pertemuan. Menurutnya, permintaan tersebut mendapat respons positif dari PLN.
"Kalau tanpa bantuan PLN, rumah gendang ini tidak akan jadi. Dengan PLN, perbaikan rumah gendang selesai sekejap mata. Kami bersyukur atas perhatian khusus yang diberikan kepada masyarakat adat," lanjutnya.
Bagi masyarakat Gendang Gonggor, keberadaan rumah adat yang kembali layak digunakan tidak hanya berkaitan dengan kondisi bangunan, tetapi juga menyediakan ruang bagi masyarakat untuk berkumpul dan menjalankan kehidupan sosial.
Perbaikan tersebut menjadi salah satu bentuk perhatian terhadap kebutuhan masyarakat yang hidup berdampingan dengan pengembangan infrastruktur panas bumi.
Pandangan positif juga disampaikan Tua Gendang Gonggor lainnya, Stevanus Akut. Ia menyebut kehadiran PLTP Ulumbu turut membawa perubahan pada akses listrik yang dirasakan masyarakat. Jika sebelumnya desa mereka kerap mengalami kondisi gelap, kini listrik dapat digunakan untuk menunjang aktivitas sehari-hari.
"Kami merasa bangga dengan kehadiran PLTP Ulumbu. Dulu desa kami gelap, sekarang tidak lagi. Siang dan malam kita bisa menggunakan listrik" ujar Stevanus.
Stevanus juga menilai pengembangan panas bumi tidak serta-merta harus dipertentangkan dengan kehidupan masyarakat setempat. Menurutnya, komunikasi dan pemahaman mengenai proyek menjadi penting agar masyarakat dapat mengetahui proses pembangunan serta manfaat yang diharapkan.
"Kami bersyukur dengan kehadiran panas bumi ini. Ulumbu datang untuk menerangkan hal-hal yang menjadi pikiran kami di wilayah Gonggor, termasuk masyarakat di Gendang Wewo, Gendang Lale, dan lainnya. Intinya, di sini kami saling mendukung," katanya.
Pengalaman masyarakat Gendang Gonggor menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur energi dan kehidupan adat dapat berjalan berdampingan melalui komunikasi, penghormatan terhadap kebutuhan masyarakat, serta perhatian pada ruang-ruang sosial dan budaya.
General Manager PT PLN (Persero) UIP Nusra, RDW. Manurung, mengatakan bahwa pengembangan infrastruktur ketenagalistrikan perlu berjalan seiring dengan penghormatan terhadap kehidupan sosial dan budaya masyarakat di sekitar proyek.
Menurutnya, komunikasi yang terbuka dengan masyarakat adat menjadi bagian penting untuk membangun pemahaman bersama, mengidentifikasi kebutuhan warga, serta memastikan proses pembangunan memperhatikan kondisi dan aspirasi masyarakat setempat.
"PLN menghormati nilai-nilai adat yang hidup di tengah masyarakat dan berupaya agar proses pembangunan dapat berjalan berdampingan dengan kehidupan sosial dan budaya setempat," ujar Manurung.
Ia menambahkan, perhatian terhadap kebutuhan masyarakat, termasuk perbaikan rumah adat Gendang Gonggor, merupakan bagian dari upaya membangun hubungan yang berkelanjutan dengan komunitas di sekitar wilayah pengembangan PLTP Ulumbu.
PLN berharap komunikasi dan kolaborasi yang terus terjalin dapat mendukung kelancaran pembangunan sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat, tanpa mengesampingkan identitas serta tradisi yang menjadi bagian penting dari kehidupan mereka.
Dapatkan sekarang