Kupang, Nttzoom-Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite di Kabupaten Sabu Raijua (Sarai), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mengalami kelangkaan.
Kelangkaan BBM jenis Pertalite itu sudah berjalan selama dua minggu terakhir ini. Akibatnya, terjadi lonjakan harga hingga Rp 35 ribu per botol di tingkat pengecer.
Kelangkaan BBM jenis Pertalite itu juga menimbulkan antrean panjang kendaraan di dua SPBU Sabu Raijua.
Daud, salah satu warga asal Kabupaten Sabu Raijua ketika dikonfirmasi nttzoom.com Senin, 3 Juni 2024 membenarkan adanya kenaikan harga BBM jenis Pertalite di Kabupaten Sabu Raijua.
Ia menjelaskan, kenaikan harga BBM jenis Pertalite di tingkat pengecer sudah berlangsung selama dua Minggu terakhir ini.
“Betul harga BBM jenis Pertalite itu setengah botol Rp 35 ribu dan saya korbannya” ungkapnya.
Ia menuturkan bahwa BBM yang disuplai di SPBU cepat habis. Selain banyaknya antrean kendaraan, situasi ini juga dimanfaatkan para pedagang pengecer untuk meraup keuntungan.
“Tanki motor su (sudah) kering ini. Kami tidak bisa beraktivitas. Semoga pemerintah ambil langkah secepatnya untuk mengatasi persoalan ini,” ucapnya.
Menanggapi keluhan masyarakat di Sabu Raijua terkait kenaikan harga BBM jenis Pertalite itu, Kepala Ombudsman RI Perwakilan Provinsi NTT, Darius Beda Daton meminta kepada pemerintah daerah (Pemda) Sabu Raijua agar segera menyelesaikan persoalan tersebut.
Ia meminta agar Pemda Sabu Raijua lebih aktif dalam memperhatikan dan mengatasi permasalahan masyarakat di Sabu Raijua yang sulit memperoleh BBM jenis Pertalite.
“Untuk mewujudkan BBM satu harga, diharapkan kerja sama erat antara BPH Migas, Pemda, Pertamina, Satgas BBM dan SPBU guna menjaga ketersediaan stok sesuai kuota di seluruh SPBU dan memastikan tidak ada yang bermain mata untuk menimbun atau aktivitas lain yang merugikan warga," ungkap Darius.
Darius juga mengaku sudah berkoordinasi dengan pihak Pertamina cabang Kupang dan Polres Sabu Raijua terkait kelangkaan BBM jenis Pertalite ini. “Segera ditertibkan Satgas BBM Sabu Raijua," ujarnya.
Beda Daton meminta agar Pemda Sabu Raijua agar dapat memeriksa kondisi kelangkaan BBM tersebut seperti memeriksa distribusi dari Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) ke sub penyalur.
Menurutnya, potensi penimbunan BBM di sub-penyalur dan pengecer bisa terjadi karena menunggu momentum kenaikan BBM yang direncanakan pemerintah agar harga jual lebih tinggi.
“Semoga BBM satu harga tidak sekadar jargon bagi warga sabu Raijua,” bebernya.(dev/jem/nz/*)
Dapatkan sekarang