Kupang, NTTzoom.com— PLTU Timor-1 2x50 MW yang berlokasi di Desa Lifuleo, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang, kini menjadi pembangkit listrik terbesar di Nusa Tenggara Timur (NTT) sekaligus penopang utama sistem kelistrikan di Pulau Timor.
Pembangkit milik PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Nusa Tenggara (UIP Nusra) melalui Unit Pelaksana Proyek (UPP) Nusra 3 ini berperan vital dalam menjaga keandalan pasokan listrik untuk wilayah Kupang, TTS, TTU, dan Belu.
Asisten Manager PLTU Timor-1, Asmar, menjelaskan, pembangkit berkapasitas total 100 megawatt (MW) ini menjadi tulang punggung sistem listrik Pulau Timor, menggantikan peran PLTU Bolok yang hanya memiliki daya 15–16 MW.
“PLTU Timor-1 ini yang paling besar di Pulau Timor, bahkan di seluruh NTT. Kalau PLTU Bolok mengalami gangguan, Timor-1 langsung naik untuk menutupi kekurangannya,” ujar Asmar kepada wartawan, Rabu (22/10/2025).
Ia mencontohkan, jika terjadi gangguan di PLTU Bolok sebesar 15–16 MW, maka PLTU Timor-1 dapat langsung menaikkan daya operasinya — dari 30 MW menjadi sekitar 46 MW — guna menutup defisit pasokan listrik di sistem Timor.
“Kalau Bolok gangguan 16 mega, di sini yang semula beroperasi 30 mega bisa langsung dinaikkan untuk menutupi kekurangan. Jadi sistem tetap stabil,” tambahnya.
Lebih lanjut, Asmar menjelaskan bahwa pola operasi pembangkit di Pulau Timor diatur oleh PLN Unit Pengatur Beban (PLNU P2B), yang menentukan berapa besar daya yang harus disuplai oleh setiap pembangkit sesuai kondisi sistem saat itu.
“P2B yang mengatur semuanya. Misalnya Timor-1 diminta suplai 30 mega, Bolok 10 mega — tergantung kebutuhan sistem. Kalau tren sekarang beban sistem sekitar 129 sampai 130 MW,” jelasnya.
Menurutnya, dalam upaya mengejar efisiensi Biaya Pokok Penyediaan (BPP), PLTU menjadi prioritas operasi karena pembangkit berbasis batu bara ini memiliki biaya produksi per kWh yang lebih rendah dibandingkan PLTD atau PLTMG.
Manager Perizinan dan Komunikasi PLN UIP Nusa Tenggara, Bobby Robson Sitorus, menambahkan bahwa beban puncak kelistrikan di Pulau Timor saat ini mencapai 129–130 MW, terutama pada musim panas ketika penggunaan AC di rumah tangga meningkat tajam.
“Sekarang beban puncaknya sekitar 129–130 mega. PLTU Timor-1 mampu menyuplai hingga 100 mega atau sekitar 80 persen kebutuhan listrik Pulau Timor,” ujar Bobby.
Sisa kebutuhan listrik, katanya, dipenuhi dari pembangkit lain seperti PLTMG Kupang Peaker dan PLTU Bolok.
Bobby menegaskan, keberadaan PLTU Timor-1 sangat penting untuk memastikan keandalan listrik di NTT, terutama dalam menghadapi rencana pertumbuhan industri di kawasan tersebut.
“Pembangunan PLTU Timor-1 ini sangat urgen karena nantinya, kalau ada industri baru yang masuk ke NTT, pasokan listrik sudah siap dan aman,” tutupnya. (es)
Dapatkan sekarang