Jakarta, NTTzoom.com — Kepala Seksi Tindak Pidana Umum (Kasi Pidum) Kejaksaan Negeri (Kejari) Sikka, Tegar Prastya, resmi menerima Trophy for Humanity dalam Malam Puncak Simfoni Perdamaian – Journey of Empathy yang digelar di Studio Grand Metro TV, Selasa (25/11/2025).
Penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi atas kontribusinya dalam menghadirkan penegakan hukum yang berlandaskan empati dan kemanusiaan.
Penghargaan itu diserahkan langsung oleh Jaksa Agung Republik Indonesia, Prof. Dr. H. Sanitiar Burhanuddin, dalam prosesi yang berlangsung hangat dan penuh penghormatan.
Kepala Seksi Penerangan Hukum Kejaksaan Tinggi NTT, A. A. Raka Putra Dharmana, menyatakan, penghargaan tersebut bukan hanya kebanggaan pribadi bagi Tegar Prastya, tetapi juga menjadi cerminan wajah baru Kejaksaan dalam memberikan keadilan yang lebih manusiawi.
“Penghargaan Trophy for Humanity kepada Pak Tegar adalah simbol bahwa Kejaksaan terus bergerak ke arah penegakan hukum yang mengedepankan empati. Ini menunjukkan bagaimana jaksa bisa hadir bukan hanya sebagai penegak aturan, tetapi juga penjaga nilai kemanusiaan,” ujar Raka Putra Dharmana.
Menurutnya, Kejaksaan RI—khususnya Kejaksaan Negeri Sikka—telah lama berkomitmen untuk menempatkan nilai pemulihan dan kemanusiaan sebagai bagian integral dari setiap penanganan perkara.
Penghargaan ini, kata Raka, memperkuat tekad institusi untuk terus menjadi garda terdepan dalam menghadirkan keadilan yang tidak hanya memastikan pertanggungjawaban hukum, tetapi juga memperhatikan masa depan para pihak dan kondisi sosial masyarakat.
“Penegakan hukum yang baik bukan hanya menentukan salah atau benar. Hukum harus mampu memahami konteks, menjembatani konflik, dan menghadirkan pemulihan. Itulah nilai yang direpresentasikan oleh sosok Pak Tegar,” tambahnya.
Acara Simfoni Perdamaian – Journey of Empathy sendiri merupakan rangkaian refleksi 25 tahun perjalanan Metro TV, yang menyatukan musik, narasi kemanusiaan, serta apresiasi bagi tokoh-tokoh inspiratif dari berbagai profesi, termasuk aparat penegak hukum, jurnalis, dan pekerja publik.
Raka Putra Dharmana berharap penghargaan ini menjadi inspirasi bagi seluruh jajaran jaksa di Nusa Tenggara Timur dan Indonesia untuk terus bekerja dengan hati, menjaga nurani, serta menjadikan empati sebagai kekuatan moral dalam setiap proses penegakan hukum.
Acara ditutup dengan pesan reflektif bahwa dalam dunia yang penuh perbedaan, empati adalah jembatan bagi harmoni dan kedamaian—sebuah nilai yang kini juga menjadi pijakan penting bagi Kejaksaan Republik Indonesia. (es)
Dapatkan sekarang