Manggarai, NTTzoom.com – Hubungan kekeluargaan antara PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Nusa Tenggara (UIP Nusra) dan masyarakat adat Gendang Wewo, Kecamatan Satar Mese, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, terus diperkuat melalui keterlibatan dalam berbagai kegiatan sosial dan budaya masyarakat.
Salah satunya terlihat dalam kehadiran PLN pada rangkaian upacara adat Penti Weki Peso Beo yang dilaksanakan masyarakat Gendang Wewo pada 1 September 2026. Kehadiran tersebut menjadi bagian dari hubungan sebagai ase kae atau saudara, sekaligus memperkuat komunikasi PLN dengan masyarakat di salah satu wilayah Ring 1 pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Ulumbu Unit 5–6.
PLN UIP Nusra diwakili Technician Pengendalian Konstruksi UPP Nusra 2, Fernando Andreas Hasibuan, yang mengikuti rangkaian Penti bersama masyarakat, mulai dari prosesi adat di rumah gendang hingga misa syukur di Natas Wewo.
Ketua Adat Gendang Wewo, Hendrikus Ampak, mengatakan Penti Weki Peso Beo merupakan tradisi yang terus dijaga sebagai momentum untuk bersyukur sekaligus mempererat kebersamaan seluruh keluarga dan ase kae yang menjadi bagian dari Gendang Wewo.
“Penti ini menjadi saat bagi kami untuk berkumpul dan bersyukur bersama. Semua keluarga dan ase kae mengambil bagian dalam rangkaian adat. PLN juga sudah kami terima sebagai ase kae di Gendang Wewo, sehingga ketika Penti dilaksanakan, PLN kami undang untuk hadir dan mengikuti prosesi bersama kami,” ujar Hendrikus.
Menurut Hendrikus, status sebagai ase kae memiliki makna kekeluargaan yang tidak hanya ditunjukkan melalui kehadiran dalam kegiatan adat, tetapi juga melalui hubungan yang terus dijaga antara masyarakat dan PLN.
“Kalau sudah menjadi ase kae, berarti sudah menjadi bagian dari keluarga. Harapan kami hubungan yang sudah terjalin baik ini terus dijaga, saling menghargai dan saling mendukung antara masyarakat Gendang Wewo dengan PLN,” tambahnya.
Dalam rangkaian Penti Weki Peso Beo, PLN turut mengikuti sejumlah prosesi adat bersama masyarakat. Rangkaian dimulai dari rumah gendang dengan pembagian tugas oleh ketua adat kepada tiga penga untuk menjalankan ritual barong wae, barong boa, dan barong lingko.
Prosesi kemudian dilanjutkan dengan kapu di natas, takung compang, tei loce, serta pande manuk di rumah gendang. Dalam rangkaian tersebut, PLN sebagai ase kae turut mendapat bagian dalam prosesi wali urat dia bersama unsur keluarga dan masyarakat adat.
Kebersamaan kemudian berlanjut melalui syukuran Penti Weki Peso Beo di rumah masing-masing ase kae dan sanda bersama di rumah gendang hingga menjelang pagi.
Pada pagi harinya, prosesi dilanjutkan dengan kepok untuk menyambut anak wina dan ase kae, termasuk perwakilan PLN. Rangkaian adat kemudian diteruskan dengan tudak ela di rumah gendang dan kembali melibatkan anak wina serta PLN dalam prosesi wali urat dia, sebelum ditutup dengan misa syukur bersama masyarakat di halaman Natas Wewo.
Fernando Andreas Hasibuan menyampaikan apresiasi atas penerimaan masyarakat Gendang Wewo dan kesempatan yang diberikan kepada PLN untuk mengikuti rangkaian adat sebagai bagian dari ase kae.
“Bagi kami, dapat hadir dan mengikuti rangkaian Penti bersama masyarakat Gendang Wewo merupakan sebuah kehormatan. Kami berterima kasih karena PLN diterima sebagai ase kae dan diberikan ruang untuk bersama-sama mengikuti tradisi yang dijaga oleh masyarakat secara turun-temurun,” ujar Fernando.
General Manager PLN UIP Nusra, RDW Manurung, mengatakan keterlibatan PLN dalam kegiatan masyarakat merupakan bagian dari upaya menjaga hubungan yang telah terbangun di sekitar pengembangan PLTP Ulumbu.
“PLN menghormati adat, tradisi, dan kearifan lokal yang hidup di tengah masyarakat. Hubungan yang terbangun dengan masyarakat Gendang Wewo sebagai ase kae tentu menjadi amanah bagi kami untuk terus menjaga komunikasi, saling menghormati, dan membangun hubungan yang baik dalam setiap tahapan pengembangan PLTP Ulumbu,” ujar RDW.
RDW menambahkan, pengembangan infrastruktur ketenagalistrikan perlu berjalan beriringan dengan keterlibatan masyarakat serta penghormatan terhadap nilai sosial dan budaya setempat.
“Pendekatan sosial dan budaya menjadi bagian penting dalam setiap tahapan pembangunan. Karena itu, komunikasi dan hubungan baik dengan masyarakat akan terus kami jaga,” katanya.
PLTP Ulumbu Unit 5–6 berkapasitas 2x20 MW merupakan bagian dari pengembangan energi panas bumi di Pulau Flores. Dalam proses pengembangannya, PLN terus membangun komunikasi dan keterlibatan dengan masyarakat, termasuk masyarakat adat di wilayah sekitar proyek. (nz)
Dapatkan sekarang