Sering Ketakutan, Fransiskus Akhiri Hidup di Pohon Mente
Polisi membawa jenasah Fransiskus yang tewas tergantung di pohon mente
Carlens
18 Nov 2021 11:40 WITA

Sering Ketakutan, Fransiskus Akhiri Hidup di Pohon Mente

MAUMERE, NTTZOOM- Fransiskus Xaverius Hadisumarto Moat Oma, (46) asal Hebing, Desa Hebing, Kecamatan Mapitara, Kabupaten Sikka, ditemukan tewas tergantung di pohon jambu mente Selasa (16/11) sekitar pukul 07.00 Wita di kebun milik Felix Firminus Tonce di Dusun Hebing, Desa Hebing Kecamatan Mapitara.  

Hal ini disampaikan Kapolres Sikka AKBP Sajimin Rabu (17/11) di Maumere. 

Sajimin jelaskan, Selasa (16/11) sekira pukul 06.00 Wita Fransiskus bangun dan sempat minum kopi, kemudian berangkat ke kebun. Sekira satu jam kemudian, Makdalena Yantriska yang kemudian menjadi saksi dalam peristiwa itu, mengikuti Fransiskus ke kebun, namun setelah sampai di kebun, Magdalena kaget melihat Fransiskus sudah tergantung di pohon mente dengan seutas tali nilon yang melilit pada lehernya. 

"Pagi-pagi Fransiskus bangun, kemudian minum kopi dan langsung berangkat ke kebun. Sejam kemudian Magdalena mengikutinya ke kebun, namun saat tiba di kebun, Magdakena lelihat Fransiskus tergantung di dahan pohon mente,” jelas Sajimin. 

Kaget melihat Fransiskus tergantnung di dahan pohon mente. Magdalena langsung berlari kembali ke rumah dan menyampaikan kepada Yohanes Bedeman (36) dan sanak keluarganya, kemudian secara bersama-sama menuju lokasi Fransiskus tergantung untuk memastikan keadaan Fransiskus. Namun sesampai di lokasi Fransiskus sudah tidak bernyawa lagi.

"Saat Yohanes dan keluarga ke lokaksi, Fransiskus sudah tidak bernyawa lagi,” ujar Sajimin. 

Melihat Fransiskus tidak bernyawa lagi, Yohanes kemudian melaporkan peristiwa itu kepada kepala desa Hebing, dan melaporkan ke Polsek Bola. Mendapat laporan itu Kapolsek Bola Ipda Muhammadong, bersama anggota Polsek Bola, Inafis Polres Sikka bersama tim Puskesmas Mapitara langsung menuju lokasai, selanjutnya melakukan olah TKP dan melakukan visum oleh dokter Puskesmas Mapitara Dr Alex Chander. 

"Saat itu juga dokter puskesmas Mapitara juga melakukan visum, sebelum diserahkan kepada pihak keluarga,” jelas Sajimin. 

Pihak keluarga korban juga menolak untuk melakukan otopsi dan menerima peristiwa itu sebagai musibah.  

Penolakkan otopsi itu  dinyatakan melalui berita acara yang dibuat pihak keluarga  korban. Berdasarkan keterangan keluarga, Fransisklus selama ini mengalami gangguan mental, yakni sering merasa ketakutan sendiri. "Keluarga korban menjelaskan  kalau Fransiskus mengalami gangguan mental, selalu merasa takut sendiri,” ujar Sajimin.(rel/cd3/nz)

Dapatkan sekarang

NTT Zoom, Ringan dan cepat
0 Disukai