Kupang, nttzoom.com– Pasca insiden keracunan massal yang menimpa ratusan siswa SMPN 8 Kupang pada Selasa pekan lalu, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kelapa Lima Satu, Kecamatan Kelapa Lima, memilih diam.
Lembaga yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam pengawasan dan penyediaan layanan gizi ini justru menutup pintu rapat-rapat dari sorotan publik.
Sejak kejadian ratusan siswa yang mengalami muntah-muntah, pusing, hingga dilarikan ke sejumlah rumah sakit usai mengonsumsi Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang disuplai oleh SPPG ini, tidak ada satu pun pernyataan resmi yang dikeluarkan oleh pihak SPPG.
Upaya wartawan untuk mengonfirmasi tanggung jawab dan langkah-langkah yang diambil, ditolak mentah-mentah.
“Kami tidak bisa berkomentar,” ujar seorang staf SPPG yang enggan disebutkan namanya, sebelum menutup pintu kantor sambil menghindari kamera wartawan.
Beberapa wartawan yang mencoba mengambil gambar juga dilarang oleh petugas.
"Maaf kakak, tidak boleh ambil gambar tanpa izin dari pimpinan" Larang seorang petugas.
Sikap tertutup ini menimbulkan kecurigaan publik. Sejumlah orang tua siswa mempertanyakan transparansi dan akuntabilitas lembaga tersebut. “Kalau mereka tidak salah, kenapa sembunyi? Kami butuh jawaban, ini menyangkut nyawa anak-anak kami,” ungkap salah satu orang tua korban, dengan nada geram.
Hingga kini, belum ada kejelasan mengenai hasil investigasi maupun pihak yang bertanggung jawab atas distribusi makanan yang diduga tercemar.
Ketertutupan SPPG Kelapa Lima justru menambah bara di tengah bara. Publik menanti sikap tegas dari pemerintah Kota Kupang dan aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas kasus ini — dan mendesak SPPG keluar dari persembunyian. (es)
Dapatkan sekarang